JAKARTA – Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok kembali melontarkan pernyataan keras terkait upaya pemberantasan mafia migas. Dalam kesaksiannya di Pengadilan Tipikor Jakarta, Selasa (27/1), Ahok mengaku pernah meminta Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo untuk menjaga ketat kilang minyak Pertamina dengan pendekatan represif jika diperlukan.
Mantan Komisaris Utama Pertamina ini menceritakan kekesalannya terhadap gangguan operasional kilang yang ia curigai sebagai ulah oknum internal maupun eksternal.
Saking geramnya, Ahok meminta aparat kepolisian untuk tidak ragu mengambil tindakan tegas terukur, termasuk menembak pelaku sabotase yang merugikan negara triliunan rupiah.
“Saya bilang sama Pak Sigit (Kapolri), ‘Tolong jagain kilang. Siapa yang sabotase, tembak saja!'” ujar Ahok.
Menurut Ahok, instruksi keras ini muncul karena ia mencium adanya ketidakberesan dalam pengelolaan kilang yang seringkali mengalami gangguan di saat-saat krusial. Ia menduga ada pihak-pihak yang sengaja membuat kilang tidak efisien agar keran impor minyak terus dibuka, sebuah modus operandi klasik yang sering dikaitkan dengan mafia migas.
Permintaan pengamanan khusus ini dinilai Ahok sangat vital mengingat kilang minyak merupakan objek vital nasional yang menyangkut hajat hidup orang banyak.
“Kita mau benahi, tapi kalau diganggu terus, ya harus ada tindakan tegas,” tambahnya.
Pernyataan ini keluar saat Ahok bersaksi untuk kasus dugaan korupsi tata kelola minyak mentah yang merugikan negara Rp 285,1 triliun. .
Dalam kasus ini, Ahok menyoroti lemahnya pengawasan dan besarnya campur tangan pihak luar dalam keputusan strategis Pertamina.
(lin/and)





