Rakyatinside.com — Presiden Prabowo Subianto menegaskan pentingnya pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat sebagai pilar utama dalam membangun bangsa yang tangguh dan mandiri. Hal tersebut disampaikan oleh Presiden saat menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-18 BRICS yang berlangsung di Bharat Mandapam, New Delhi, India, pada Sabtu (12/9/2026). Menurut beliau, kekuatan sejati suatu negara selalu bermula dari kondisi kesejahteraan rakyatnya sendiri di dalam negeri.
Pertemuan tingkat tinggi ini dihadiri oleh sejumlah pemimpin dunia, termasuk Perdana Menteri India Sri Narendra Modi selaku tuan rumah, Presiden China Xi Jinping, dan Presiden Rusia Vladimir Putin. Kehadiran para kepala negara dan pemerintahan dari belahan bumi selatan (Global South) ini menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk menyuarakan sikap politik luar negeri yang bebas, aktif, dan berdaulat.
Fokus pada Kesejahteraan Rakyat dan Kemandirian
Dalam pidatonya, Presiden Prabowo menjabarkan bahwa kemandirian bangsa tidak dapat dipisahkan dari upaya pemenuhan gizi, pendidikan, dan energi bagi seluruh warga negara. Beliau menekankan bahwa memberikan makanan yang layak serta menyediakan akses energi dan pendidikan yang berkualitas bagi generasi muda adalah langkah konkret dalam menciptakan fondasi ketahanan nasional jangka panjang.
Menurut Prabowo, kekuatan nasional harus dibangun secara bertahap mulai dari tingkat keluarga hingga komunitas terkecil. Dengan menjamin ketersediaan pangan dan gizi yang cukup, kualitas sumber daya manusia akan meningkat pesat demi menyongsong masa depan bangsa yang lebih cerah dan mandiri.
“Kekuatan selalu berawal dari rumah, dari rakyat kita, dari kemampuan kita untuk memberi makan rakyat kita, untuk menyediakan energi yang mereka butuhkan, untuk mendidik anak-anak kita, dan untuk memberi mereka kesempatan untuk sejahtera. Itulah cara kita membangun bangsa yang tangguh dan benar-benar mandiri,” ujar Presiden Prabowo sebagaimana disiarkan melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden.
Solidaritas Global South dan Warisan KAA 1955
Di hadapan para pemimpin BRICS, Presiden Prabowo juga merefleksikan sejarah diplomasi Indonesia, khususnya momentum Konferensi Asia-Afrika (KAA) yang diselenggarakan di Bandung pada tahun 1955. Momentum bersejarah tersebut menjadi titik awal di mana suara negara-negara berkembang mulai didengar di panggung internasional sebagai mitra yang setara.
Beliau mengingatkan bahwa persatuan di antara negara-negara berkembang adalah kunci untuk melindungi kepentingan bersama dari dominasi kekuatan global tertentu. Melalui kebersamaan dan kemitraan yang setara, posisi tawar negara-negara belahan bumi selatan akan semakin kuat, sehingga kepentingan nasional masing-masing negara dapat lebih terlindungi dan diperjuangkan secara maksimal.
Indonesia Menolak Didikte dan Dorong Kerja Sama Energi
Selain menyoroti isu domestik dan solidaritas internasional, Presiden Prabowo menegaskan sikap politik luar negeri Indonesia yang independen. Beliau menyatakan dengan tegas bahwa Indonesia tidak ingin didikte oleh satu atau dua kekuatan mana pun di dunia. Untuk menghindari tekanan eksternal tersebut, Indonesia berkomitmen memperkuat fondasi internal guna menjaga perdamaian dan membangun kepercayaan antarnegara.
Salah satu sektor strategis yang ditekankan untuk diperkuat dalam kemitraan BRICS adalah sektor energi. Presiden menjelaskan bahwa Indonesia tengah aktif menghubungkan sistem energi dan memperkuat ketahanan energi di kawasan demi menggerakkan roda perekonomian serta membangun ketangguhan jangka panjang yang berkelanjutan.
Melalui kolaborasi di sektor energi ini, diharapkan negara-negara anggota BRICS dapat saling mendukung dalam menghadapi krisis energi global. Dengan fondasi kerja sama yang kuat, ketahanan energi tidak hanya akan menopang sektor industri, tetapi juga memastikan masyarakat di pelosok daerah mendapatkan akses listrik dan bahan bakar yang terjangkau.





