rakyatinside.com – Setengah tahun pascabencana hidrometeorologi melanda wilayah Aceh pada akhir November 2025 lalu, penderitaan para siswa di sana ternyata belum sepenuhnya berakhir. Hingga pertengahan tahun 2026, puluhan sekolah dilaporkan masih terpaksa menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar di bawah tenda darurat karena fasilitas pendidikan yang rusak parah belum kunjung direhabilitasi.
Berdasarkan data yang dirilis oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) per Februari 2026, tercatat ada 52 sekolah di Provinsi Aceh yang terpaksa menggunakan tenda atau kelas darurat demi menyambung proses belajar mengajar. Sementara itu, sekitar 20 sekolah lainnya terpaksa menumpang sementara di fasilitas sekolah terdekat yang kondisinya lebih aman. Meskipun ada sebanyak 3.001 sekolah yang sudah berhasil kembali beraktivitas di bangunan asal mereka, kondisi puluhan sekolah yang masih telantar ini tentu memerlukan perhatian dan penanganan yang cepat.
Salah satu wilayah yang terdampak cukup parah adalah Kabupaten Aceh Tengah. Di daerah ini, setidaknya ada 12 sekolah yang tersebar di Kecamatan Ketol, Kecamatan Bintang, dan Kecamatan Linge yang hingga kini masih mengandalkan tenda darurat. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Aceh Tengah, Salimsyah, menjelaskan bahwa kerusakan infrastruktur pascabencana membuat sejumlah bangunan sekolah sama sekali tidak layak dan berbahaya untuk digunakan. Aliran sungai di sekitar lokasi sekolah melebar secara drastis, sehingga sangat berisiko bagi keselamatan para siswa jika mereka harus memaksakan diri melintasinya setiap hari.
Sebagai solusi taktis untuk menghindari bahaya penyeberangan sungai tersebut, pemerintah daerah berinisiatif membangun ruang kelas darurat di lokasi alternatif yang lebih aman, termasuk dengan mendirikan tenda-tenda darurat. Pihak dinas pendidikan setempat menegaskan bahwa mereka terus mengupayakan penyediaan ruang belajar sementara yang lebih representatif, sembari menunggu anggaran dan realisasi pembangunan gedung sekolah permanen yang baru dari pemerintah pusat.
Kondisi yang tak kalah memprihatinkan juga terlihat di Kabupaten Aceh Barat. Pada pelaksanaan ujian sekolah yang berlangsung Jumat (5/6/2026), para siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) Alue Lhok di Desa Jambak, Kecamatan Pante Ceureumen, terpaksa harus mengikuti ujian di bawah tenda darurat. Keterbatasan fasilitas membuat para murid sekolah dasar ini harus bergotong royong mengangkat meja belajar mereka sendiri ke dalam tenda agar bisa menulis dengan layak. Mirisnya, lokasi tenda darurat tempat mereka melaksanakan ujian ini didirikan tepat di depan puing bangunan sekolah mereka yang rusak, yang posisinya hanya berjarak beberapa meter dari bibir sungai yang rawan longsor. Potret perjuangan para siswa ini menjadi pengingat keras akan pentingnya percepatan pemulihan sektor pendidikan pascabencana di Aceh.





