Rakyatinside.com – Perkembangan teknologi kesehatan dunia kembali mencatat babak baru setelah Neuralink, perusahaan implan otak milik Elon Musk, memutuskan untuk mengalihkan produksi chip generasi terbarunya ke Samsung. Neuralink resmi meninggalkan Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) dan memilih raksasa teknologi asal Korea Selatan tersebut untuk memproduksi chip Neuralink Generasi ke-4 (Gen-4) dengan menggunakan teknologi proses 4 nanometer (4nm).
Langkah strategis ini menandai pergeseran besar dalam peta persaingan industri semikonduktor global. Bagi masyarakat luas, termasuk di Indonesia, perkembangan teknologi chip otak ini membawa harapan baru di bidang medis. Chip generasi terbaru ini tidak hanya sekadar membaca aktivitas otak, melainkan mampu memberikan dampak praktis yang luar biasa bagi penyembuhan berbagai penyakit saraf dan gangguan fisik berat.
Kemampuan Revolusioner Chip Neuralink Gen-4
Perbedaan paling mencolok antara chip Neuralink generasi keempat dengan pendahulunya terletak pada kemampuan interaksi dua arah. Pada generasi sebelumnya, teknologi ini hanya berfungsi satu arah, yaitu membaca sinyal dari otak untuk kemudian diterjemahkan menjadi perintah ke perangkat luar seperti komputer atau ponsel.
Sebaliknya, chip Gen-4 yang akan diproduksi oleh Samsung ini dirancang untuk dapat memasukkan data dari perangkat luar kembali ke dalam otak manusia. Kemampuan ini memungkinkan stimulasi langsung pada neuron otak untuk mengaktifkan kembali fungsi fisik yang telah hilang atau rusak. Salah satu aplikasi nyata yang paling dinantikan dari teknologi ini adalah memulihkan penglihatan pada pasien tunanetra melalui simulasi neuron secara langsung.
Alasan Elon Musk Memilih Samsung ketimbang TSMC
Keputusan Elon Musk untuk memindahkan produksi dari TSMC ke Samsung didorong oleh dinamika rantai pasok global yang semakin ketat. TSMC, yang sebelumnya dipercaya memproduksi massal chip Neuralink generasi ketiga, saat ini tengah menghadapi tekanan luar biasa akibat lonjakan permintaan chip kecerdasan buatan (AI) dari perusahaan raksasa seperti NVIDIA.
Meskipun TSMC telah berupaya meningkatkan kapasitas bulanan mereka hingga mencapai 175.000 unit wafer untuk litografi 3nm, antrean pemesanan yang sangat padat tetap membuat jalur pasokan mereka terhambat. Masalah keterbatasan kapasitas di TSMC inilah yang membuka peluang emas bagi Samsung.
Di sisi lain, Samsung menawarkan stabilitas produksi yang lebih baik pada node proses 4nm yang sudah matang. Walaupun teknologi proses GAA 2nm milik Samsung dikabarkan belum mencapai standar hasil produksi (yield) yang memadai untuk menerima pesanan skala besar, fokus mereka pada optimalisasi teknologi 4nm justru menjadi solusi tepat dan aman bagi kebutuhan spesifik chip Neuralink Gen-4.
Kronologi Kerja Sama dan Target Produksi
Kemitraan antara Elon Musk dan Samsung sebenarnya bukan hal baru. Sebelum proyek Neuralink Gen-4 ini, kedua belah pihak telah menjalin kesepakatan jangka panjang untuk memproduksi chip penggerak otomatis kendaraan pintar Tesla, yaitu seri AI6 dan AI6.5. Hubungan kerja sama yang sudah teruji ini memperkuat keyakinan Musk untuk kembali mempercayakan teknologi medis mutakhirnya kepada Samsung.
Berdasarkan jadwal yang telah disusun, Samsung menargetkan untuk memproduksi dan mengirimkan batch pertama chip uji coba Neuralink Gen-4 pada semester pertama tahun 2027. Sementara itu, fase produksi massal dijadwalkan dapat dimulai paling cepat pada akhir tahun berikutnya.
Bagi Samsung, kolaborasi ini menjadi momentum penting untuk membangkitkan kembali divisi bisnis manufaktur chip (foundry) mereka. Perusahaan menargetkan bisnis foundry ini dapat kembali mencapai tingkat profitabilitas yang sehat pada tahun 2028 mendatang.





