Harga Minyak Dunia Turun Usai Trump Batal Serang Iran, Ini Dampaknya

  • Bagikan
Pergerakan harga minyak dunia mengalami penurunan setelah ketegangan geopolitik mereda
Pergerakan harga minyak dunia mengalami penurunan setelah ketegangan geopolitik mereda

Rakyatinside.com – Harga minyak dunia mencatatkan penurunan signifikan lebih dari 2 persen pada perdagangan Jumat (12/6). Penurunan harga ini terjadi menyusul keputusan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, yang membatalkan rencana serangan militer terhadap Iran.

Langkah pembatalan serangan tersebut meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global, khususnya di kawasan Timur Tengah. Akibatnya, harga minyak mentah Brent merosot sebesar 2,3 persen menjadi US$ 88,27 per barel. Di saat yang sama, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berjangka AS juga turun sebesar 2,2 persen ke level US$ 85,81 per barel.

Kronologi Pembatalan Serangan dan Reaksi Pasar

Sebelumnya, pada Kamis (11/6), Presiden Donald Trump memutuskan untuk membatalkan rencana serangan militer ke Iran. Trump mengklaim bahwa diskusi mengenai kesepakatan damai dengan Iran telah menunjukkan kemajuan. Ia juga menyebutkan bahwa Selat Hormuz, yang merupakan jalur pelayaran penting untuk distribusi minyak dunia, akan kembali dibuka. Kendati demikian, pihak Teheran menyatakan bahwa mereka belum membuat keputusan akhir terkait kesepakatan tersebut.

Meskipun situasi masih dinamis, pasar langsung merespons kabar ini dengan cepat. Analis Pasar dari IG, Tony Sycamore, menyatakan bahwa reaksi pasar sangat cepat dan tegas dalam merespons perkembangan politik ini. Menurut Sycamore, koreksi harga saat ini masih wajar, dan risiko kenaikan harga minyak ke depan tetap terbuka lebar selama harga mampu bertahan di atas level support di kisaran US$ 80-an.

Proyeksi Permintaan Minyak Global oleh OPEC

Di tengah fluktuasi harga akibat sentimen geopolitik, Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) juga memberikan pengaruh terhadap pasar melalui proyeksi terbarunya. OPEC baru-baru ini menurunkan perkiraan pertumbuhan permintaan minyak dunia untuk tahun 2026 menjadi 970 ribu barel per hari, turun dari perkiraan sebelumnya yang mencapai 1,17 juta barel per hari. Ini merupakan revisi penurunan kedua yang dilakukan oleh kelompok produsen minyak tersebut.

Baca Juga:  Iran Minta Warga Timur Tengah Jauhi Pasukan AS Saat Ketegangan Meningkat

Kendati demikian, OPEC memproyeksikan adanya pemulihan konsumsi minyak global pada tahun-tahun berikutnya. Untuk tahun 2027, OPEC menaikkan perkiraan pertumbuhan permintaan minyak sebesar 190 ribu barel per hari menjadi 1,73 juta barel per hari dari perkiraan sebelumnya.

Dampak Praktis Bagi Masyarakat Indonesia

Bagi masyarakat Indonesia, pergerakan harga minyak mentah dunia memiliki dampak yang sangat nyata. Sebagai negara importir minyak (net oil importer), fluktuasi harga minyak global secara langsung memengaruhi kondisi perekonomian domestik. Penurunan harga minyak dunia ke level US$ 80-an per barel tentunya menjadi kabar baik yang dapat meringankan beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), terutama dalam mengalokasikan anggaran subsidi energi.

Ketika harga minyak dunia mengalami penurunan, tekanan terhadap harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri juga cenderung mereda. Hal ini memberikan ruang bagi pemerintah untuk menjaga stabilitas harga BBM nonsubsidi maupun subsidi. Bagi konsumen atau pembaca umum di Indonesia, stabilitas harga BBM sangat krusial karena berkontribusi langsung dalam menjaga kestabilan harga barang-barang kebutuhan pokok dan mengendalikan laju inflasi nasional.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *