Rakyatinside.com – Pemerintah Israel kembali menegaskan pendirian tegasnya terkait konflik di Lebanon selatan. Pihak Tel Aviv menyatakan bahwa pasukan militer mereka tidak akan ditarik dari wilayah tersebut selama kelompok Hizbullah masih memiliki kekuatan bersenjata dan belum didemiliterisasi.
Penegasan Sikap Israel Terhadap Hizbullah
Juru bicara pemerintah Israel, David Mencer, dalam pernyataannya pada Jumat (26/6/2026), menekankan bahwa keamanan warga Israel di wilayah utara menjadi prioritas utama. Menurutnya, keberadaan Hizbullah di perbatasan merupakan ancaman nyata yang tidak bisa dibiarkan begitu saja oleh negara tersebut.
“Kami tidak akan menarik pasukan kami dari Lebanon bagian selatan selama Hizbullah masih menjadi ancaman, serta belum dilucuti senjata dan didemiliterisasi,” tegas Mencer kepada awak media. Ia menambahkan bahwa pengalaman masa lalu, khususnya pada tahun 2024, menunjukkan bahwa janji pelucutan senjata Hizbullah sering kali tidak terealisasi, sehingga Israel kali ini bersikap sangat berhati-hati.
Konteks Perundingan dan Tekanan Internasional
Sikap keras ini muncul di tengah berlangsungnya perundingan langsung antara pejabat Lebanon dan Israel yang dimediasi oleh pihak internasional, termasuk Amerika Serikat. Perundingan yang dimulai sejak April lalu ini sempat memasuki putaran terbaru selama tiga hari dan berakhir pada Kamis (25/6/2026).
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, sempat mengindikasikan adanya kemajuan dengan menyebut kedua belah pihak hampir mencapai “komitmen niat”. Namun, Israel tetap teguh bahwa tidak ada penarikan pasukan sebelum Hizbullah benar-benar dilucuti. Bagi Israel, tanggung jawab mereka adalah memastikan tidak ada kekuatan teroris di dekat perbatasan mereka.
Tanggapan Iran dan Garda Revolusi
Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) melalui Komandan Pasukan Quds, Esmaeil Qaani, menuntut agar Israel menarik pasukannya secara sukarela dari Lebanon. Iran memperingatkan bahwa jika tidak mundur, Israel akan terpaksa pergi karena kekalahan. Hal ini menambah dimensi kompleksitas dalam konflik yang melibatkan berbagai aktor regional tersebut.
Posisi Militer Israel di Zona Keamanan
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, memberikan penegasan serupa. Ia menyatakan bahwa pemerintah belum menetapkan jadwal penarikan pasukan, baik dari Lebanon, Jalur Gaza, maupun Suriah. Fokus utamanya adalah mempertahankan zona keamanan untuk melindungi penduduk dari ancaman elemen jihadis.
“Kita harus tetap berada di zona keamanan di Lebanon, Suriah, dan Gaza, dan bukan untuk jangka waktu terbatas, guna melindungi penduduk dan komunitas kita dari ancaman elemen-elemen jihadis yang berasal dari wilayah tersebut,” ujar Katz. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, juga mengonfirmasi bahwa pasukan IDF akan tetap berada di Lebanon selatan selama diperlukan untuk menjamin stabilitas keamanan.
Dampak dan Harapan
Bagi pembaca di Indonesia yang mengikuti dinamika Timur Tengah, situasi ini menunjukkan betapa rumitnya proses perdamaian di kawasan tersebut. Meskipun ada tekanan dari komunitas internasional untuk mengakhiri pertempuran dan menghormati kedaulatan Lebanon, perbedaan prinsip mengenai keamanan dan pelucutan senjata kelompok non-negara seperti Hizbullah masih menjadi batu sandungan utama.
Situasi ini terus dipantau dunia internasional, terutama karena dampaknya terhadap stabilitas geopolitik dan kedaulatan wilayah Lebanon yang terperangkap dalam konflik berkepanjangan antara berbagai pihak yang memiliki kepentingan berbeda di wilayah perbatasan.





