Rakyatinside.com – Perguruan tinggi di Indonesia kini dituntut untuk melakukan transformasi peran secara nyata. Tidak lagi sekadar menjadi lembaga pendidikan formal, kampus harus mampu bertindak sebagai pusat inovasi, pemberdayaan, dan penggerak utama kemajuan di tingkat desa. Hal tersebut ditegaskan oleh Penasihat Menteri Desa, Prof Zainuddin Maliki, dalam sebuah Seminar Nasional yang diselenggarakan oleh Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Muhammadiyah Bojonegoro pada hari Senin, 29 Juni 2026.
Dalam seminar nasional yang mengusung tema “Transformasi Pendidikan Desa Berbasis Masyarakat Menuju Indonesia Emas 2045” tersebut, Prof Zainuddin memaparkan gagasan mengenai pentingnya sinergi antara akademisi dan masyarakat desa. Langkah ini dinilai krusial untuk mendukung upaya Menteri Desa dalam menumbuhkembangkan potensi lokal secara maksimal di seluruh penjuru tanah air.
Mengenal Konsep Desa Tematik dan Desa Ekspor
Menurut Prof Zainuddin, konsep desa tematik dan desa ekspor merupakan dua pilar utama dalam modernisasi ekonomi perdesaan. Desa tematik dirancang sebagai model pembangunan yang menempatkan keunikan serta potensi unggulan desa sebagai identitas utama sekaligus motor penggerak roda ekonomi lokal. Melalui pendekatan ini, setiap desa diharapkan memiliki karakteristik khas yang menjadi daya tarik tersendiri.
Sementara itu, program desa ekspor menjadi sebuah lompatan baru yang sangat strategis agar desa tidak berhenti hanya sebagai pemasok bahan mentah yang bernilai rendah. Sebaliknya, desa dituntut untuk mampu memproses komoditas tersebut menjadi produk unggulan yang memiliki nilai tambah tinggi, berkualitas, dan memiliki kemampuan untuk mengakses pasar global secara langsung.
Beliau menambahkan bahwa cita-cita besar menuju Indonesia Emas 2045 hanya akan dapat diwujudkan apabila pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang unggul di tingkat desa berjalan selaras dengan penguatan ekonomi berbasis potensi lokal. Oleh karena itu, kehadiran nyata institusi pendidikan tinggi sangat dinantikan untuk mendampingi proses ini.
“Karena itu, kampus perlu hadir secara nyata melalui riset, pendampingan, dan inovasi yang dapat melahirkan desa-desa tematik dan desa-desa ekspor,” ujar Prof Zainuddin, yang juga dikenal luas sebagai penulis buku Rekonstruksi Teori Sosial Modern.
Peran Strategis STITM Bojonegoro di Daerah Migas
Dalam kesempatan yang sama, tokoh yang pernah menjabat sebagai Anggota DPR RI periode 2019-2024 ini memberikan apresiasi yang tinggi kepada STITM Bojonegoro. Kampus tersebut dinilai tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik semata, melainkan juga memiliki kepedulian sosial yang tinggi dengan menggerakkan para pendidik dan tenaga kependidikan untuk menjadi agen perubahan langsung di desa.
Langkah progresif STITM Bojonegoro dalam membina ekosistem pemberdayaan ini dinilai sangat tepat, terutama karena Bojonegoro dikenal sebagai salah satu daerah penghasil minyak dan gas bumi (migas) skala nasional. Wilayah yang sering dijuluki sebagai “Texasnya Indonesia” ini memiliki tantangan tersendiri dalam menyelaraskan kekayaan alam dengan kesejahteraan masyarakatnya.
“Di kota penghasil migas ini, kemajuan tidak boleh hanya diukur dari besarnya sumber daya alam yang dimiliki, tetapi juga dari kualitas sumber daya manusia dan keberdayaan masyarakat desanya,” tegas Sekretaris Eksekutif Program TEKAD, sebuah program kolaborasi strategis antara Kementerian Desa (Kemendesa) dengan International Fund for Agricultural Development (IFAD).
Membangun Fondasi Indonesia Emas dari Desa
Prof Zainuddin menegaskan bahwa perguruan tinggi memegang peranan yang sangat strategis dalam menyusun fondasi pemberdayaan tersebut. Kampus dapat berkontribusi melalui berbagai program nyata yang meliputi:
- Riset terapan yang solutif bagi permasalahan desa.
- Inovasi teknologi tepat guna untuk efisiensi produksi.
- Peningkatan kapasitas sumber daya manusia setempat.
- Hilirisasi produk lokal agar memiliki nilai jual tinggi.
- Peningkatan literasi digital bagi masyarakat desa.
- Pengembangan jejaring kemitraan yang kuat dengan pemerintah dan dunia usaha.
Sinergi yang erat antara dunia akademis dan pemerintahan desa diyakini akan melahirkan kolaborasi yang produktif. Ketika ilmu pengetahuan modern dari kampus bertemu dengan potensi lokal serta semangat gotong royong warga, maka akan tercipta desa-desa mandiri yang berdaya saing tinggi serta mampu bersaing di kancah internasional.
Menutup pemaparannya, Prof Zainuddin menyatakan keyakinannya bahwa kolaborasi antara STITM Bojonegoro bersama para pendidik yang tergabung dalam PGRI Bojonegoro akan mampu mencetak generasi muda dan sarjana yang berdedikasi tinggi. Mereka diharapkan memiliki impian besar untuk mengabdikan ilmunya demi kemajuan tanah kelahiran mereka.
“Jika desa bertumbuh, Indonesia akan maju dan ketika kampus dan para pendidik berhasil menggerakkan masyarakat desa berinovasi menjadikan desa-desa tematik dan bahkan naik kelas menjadi desa ekspor dengan menembus pasar dunia, sesungguhnya di situlah kita sedang membangun fondasi Indonesia Emas dari desa,” pungkasnya.





