Rakyatinside.com — Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mencatatkan penguatan sebesar 0,7% ke level 17.762 pada perdagangan Senin, 10 Agustus 2026. Penguatan ini terjadi seiring dengan munculnya sentimen positif dari dalam negeri terkait kepastian kepemimpinan di Bank Indonesia, serta adanya indikasi melunaknya kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, The Fed.
Pencalonan Destry Damayanti sebagai Gubernur BI
Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, secara resmi menyatakan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah mengusulkan Destry Damayanti sebagai kandidat tunggal gubernur definitif Bank Indonesia kepada DPR. Destry, yang saat ini menjabat sebagai gubernur sementara, dianggap sebagai sosok yang memiliki rekam jejak mumpuni di dunia ekonomi dan keuangan.
Latar belakang Destry mencakup pendidikan ekonomi dari Universitas Indonesia dan gelar master dari Cornell University. Sebelum bergabung dengan jajaran dewan gubernur Bank Indonesia pada tahun 2019, ia pernah menjabat sebagai kepala ekonom di Bank Mandiri, penasihat duta besar Inggris untuk Indonesia, dan ekonom di Citibank Indonesia. Mengingat komposisi koalisi pemerintah yang kuat di parlemen, DPR diperkirakan akan menyetujui pencalonan ini melalui proses fit and proper test setelah masa reses berakhir pada pertengahan Agustus 2026.
Menanti Arah Kebijakan Bank Indonesia
Pasar saat ini masih memantau bagaimana arah kebijakan Bank Indonesia setelah kepemimpinan definitif terbentuk. Hal ini menjadi krusial mengingat adanya kekhawatiran mengenai independensi bank sentral pasca-pengesahan revisi UU P2SK. Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, mengingatkan bahwa risiko bagi pasar akan meningkat jika terjadi pemangkasan suku bunga yang terlalu dini atau adanya suntikan likuiditas untuk mendanai agenda fiskal pemerintah.
Penurunan Ekspektasi Suku Bunga The Fed
Selain sentimen domestik, penguatan rupiah juga didorong oleh melemahnya ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan September 2026. Berdasarkan analisis CME FedWatch Tool per Senin (10/8), probabilitas kenaikan suku bunga turun menjadi 44%, jauh lebih rendah dibandingkan angka 67% pada sepekan sebelumnya.
Perubahan ekspektasi ini dipicu oleh data ketenagakerjaan Amerika Serikat periode Juli 2026 yang menunjukkan pelemahan signifikan. Data non-farm payroll tercatat turun sebanyak 23 ribu, berbanding terbalik dengan konsensus pasar yang memprediksi kenaikan sebesar 80 ribu. Meskipun tingkat pengangguran AS turun ke 4,1%, angka tersebut dipengaruhi oleh penurunan jumlah angkatan kerja sebesar 264 ribu orang, dengan tingkat partisipasi angkatan kerja yang berada di level terendah dalam 5,5 tahun terakhir.
Dampak ke Pasar Global dan Domestik
Respons pasar terhadap data ketenagakerjaan AS tersebut cukup nyata. Harga emas melonjak lebih dari 2% ke level US$4.340 per ons pada penutupan Jumat (7/8), sementara indeks dolar AS mengalami koreksi sekitar 0,4% ke level 99,6. Secara akumulatif, sejak awal Agustus 2026, nilai tukar rupiah telah menguat sebesar 1,3% terhadap dolar AS.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga menunjukkan tren positif dengan kenaikan 2,1% sejak awal bulan, meski masih berjuang untuk menembus level 6.400. Sektor pertambangan logam, khususnya indeks material dasar, menjadi pendorong utama kinerja IHSG dengan pertumbuhan mencapai 6,2%. Investor kini menantikan rilis data inflasi AS pada 12 Agustus dan pidato kenegaraan Presiden Prabowo pada 14 Agustus mengenai APBN 2027 sebagai katalis pasar berikutnya.
Perkembangan Korporasi di Pasar Saham
Selain sentimen makroekonomi, beberapa aksi korporasi juga menjadi perhatian pelaku pasar:
- Telkom Indonesia (TLKM): Berencana melakukan spin-off tahap kedua aset fiber optik kepada PT Telkom Infrastruktur Indonesia senilai Rp49,9 triliun. Rencana ini akan dibahas dalam RUPS pada 30 September 2026.
- Bumi Resources (BUMI): Merevisi naik target volume penjualan tahun 2026 menjadi 82-84 juta ton dari target sebelumnya di kisaran 76-78 juta ton, didukung oleh kinerja operasional yang solid pada semester pertama 2026.
- Darma Henwa (DEWA): Mencatatkan laba bersih Rp354 miliar pada semester pertama 2026, tumbuh 89% secara tahunan, meskipun terdapat beban keuangan one-off dari denda pinjaman bank.
- Solusi Sinergi Digital (WIFI): Berencana menambah lini usaha di bidang konstruksi sentral telekomunikasi untuk memperkuat posisi di industri infrastruktur digital, dengan proyeksi nilai ekonomi mencapai Rp929,8 miliar.
Seluruh perkembangan ini menunjukkan dinamika pasar yang dipengaruhi oleh kombinasi kebijakan fiskal, moneter, serta langkah strategis korporasi dalam menjaga pertumbuhan di tengah tantangan ekonomi global.





