Rakyatinside.com – Penemuan bersejarah kembali tercatat di lepas pantai Filipina. Bangkai kapal Jepang dari masa Perang Dunia II, Hôfuku Maru, akhirnya berhasil ditemukan setelah menghilang selama 80 tahun di dasar laut. Kapal yang dijuluki sebagai salah satu “Kapal Neraka” ini menyimpan kisah tragis tentang penderitaan ribuan tawanan perang Sekutu yang gugur akibat salah sasaran dalam pertempuran sengit di masa lalu.
Penemuan ini menjadi momen krusial bagi sejarah militer dunia, khususnya dalam mengungkap tabir gelap transportasi tawanan perang oleh militer Jepang. Hôfuku Maru tenggelam pada tahun 1944 di tengah berkecamuknya Perang Pasifik, membawa serta penderitaan mendalam dari ratusan prajurit yang terperangkap di dalam ruang kargo besi yang panas dan kedap udara.
Kronologi Tragedi Tenggelamnya Hôfuku Maru
Peristiwa memilukan ini bermula pada tanggal 21 September 1944. Saat itu, kapal Hôfuku Maru tengah berlayar dalam sebuah konvoi militer Jepang melintasi kawasan Laut Cina Selatan. Di dalam lambung kapal, terdapat sekitar 1.200 tawanan perang asal Inggris dan Belanda yang dijejalkan secara paksa ke dalam ruang palka yang sangat sempit dan tidak layak huni.
Tragisnya, karena kapal tersebut berlayar tanpa tanda pengenal atau bendera khusus yang menandakan adanya tawanan perang, pesawat tempur milik Amerika Serikat (AS) salah mengidentifikasinya sebagai kapal kargo militer musuh. Jet tempur AS kemudian melepaskan empat torpedo ke arah kapal. Salah satu torpedo menghantam lambung Hôfuku Maru dengan telak, menyebabkannya terbelah menjadi dua bagian dan tenggelam dalam hitungan menit.
Sebagian besar tawanan perang Sekutu yang terjebak di bawah dek tidak memiliki kesempatan untuk menyelamatkan diri dan tewas seketika. Dari total sekitar 1.200 tawanan, hanya sekitar 200 orang yang berhasil selamat dalam kondisi yang sangat lemah, sakit, dan trauma. Sejak hari mengerikan itu, lokasi pasti peristirahatan terakhir kapal Hôfuku Maru lenyap ditelan kedalaman samudra.
Proses Penemuan Setelah Delapan Dekade
Penemuan bangkai kapal ini tidak terjadi secara kebetulan. Para peneliti harus melakukan analisis mendalam terhadap dokumen-dokumen bersejarah yang tersimpan dalam arsip militer Jepang dan Amerika Serikat selama bertahun-tahun. Setelah memetakan jalur pelayaran terakhir kapal, tim melakukan survei sonar secara komprehensif serta penyelaman teknis yang berisiko tinggi.
Kerja keras tersebut membuahkan hasil ketika puing-puing Hôfuku Maru terdeteksi di dekat Provinsi Zambales, lepas pantai barat Luzon, pulau terbesar di Filipina. Bangkai kapal tersebut ditemukan berada di kedalaman sekitar 164 kaki atau 50 meter di bawah permukaan laut. Namun, proses identifikasi dan dokumentasi menghadapi tantangan berat karena tertimbun abu vulkanik dari letusan dahsyat Gunung Pinatubo pada tahun 1991 yang terbawa aliran sungai hingga ke dasar laut.
Demi menjaga kelestarian situs bersejarah ini dari penjarahan dan kerusakan, pihak penyelidik memutuskan untuk tidak mempublikasikan koordinat persis dari bangkai kapal Hôfuku Maru. Lokasi ini kini dianggap sebagai kuburan perang yang harus dihormati oleh semua pihak.
Realitas Mengerikan di Atas “Kapal Neraka”
Sebutan “Kapal Neraka” bukanlah tanpa alasan. Selama Perang Dunia II, militer Jepang mengoperasikan setidaknya 56 kapal tanpa tanda pengenal untuk mengangkut lebih dari 62.000 tawanan perang Sekutu ke berbagai wilayah kekuasaannya. Akibat ketiadaan tanda pengenal tersebut, serangan dari pihak Sekutu sendiri akhirnya menenggelamkan 19 dari kapal-kapal tersebut. Hingga hari ini, lokasi lima bangkai kapal neraka lainnya masih misterius dan belum ditemukan.
Tim Beckensall, seorang sejarawan Perang Dunia II sekaligus direktur pencarian untuk Hellships Memorial Foundation, menggambarkan betapa mengerikannya kondisi di dalam kapal tersebut. Ruang kargo logam yang gelap gulita menjadi sangat panas di bawah terik matahari tropis, diiringi bau menyengat yang menyesakkan dada. Sanitasi sama sekali tidak ada, dan para tawanan tidak diberikan makanan atau air minum yang layak untuk bertahan hidup.
Berdasarkan dokumen pengadilan pascaperang, sekitar 1.000 tawanan Inggris dan 250 tawanan Belanda dipaksa berdesakan di dua ruang kargo yang sangat sempit. Saking sempitnya ruang tersebut, para prajurit harus bergantian hanya untuk sekadar berbaring di lantai kapal yang kotor.
Setiap tawanan hanya bertahan hidup dengan jatah air minum sebanyak tiga perempat pint (sekitar 426 mililiter) per hari di tengah suhu udara yang ekstrem. Banyak di antara mereka yang terlalu lemah bahkan hanya untuk memanjat tangga menuju toilet sederhana di dek atas, sehingga terpaksa menggunakan wadah makanan sebagai pispot darurat di dalam palka. Penjaga kapal bahkan menyita jaket pelampung yang sempat diberikan setelah mengetahui alat keselamatan tersebut digunakan oleh tawanan sebagai bantal.
Kesaksian Penyintas dan Keadilan Hukum
Meskipun sebagian besar penumpang gugur, beberapa penyintas berhasil bertahan hidup hingga perang berakhir dan memberikan kesaksian berharga. Di antaranya adalah almarhum Kapten Nigel Evans dan almarhum Kapten James Gibson dari militer Inggris. Kesaksian memilukan mereka di persidangan kejahatan perang di Singapura menjadi bukti kunci yang menyeret para pelaku ke pengadilan.
Akibat perlakuan kejam terhadap para tawanan ini, Sersan Mayor Jotani Kitaichi dari Angkatan Darat Kekaisaran Jepang akhirnya dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan militer Inggris setelah perang usai. Sebagian besar tawanan yang berada di kapal tersebut sedianya dibawa dari Singapura menuju Jepang untuk dijadikan pekerja paksa di pabrik-pabrik dan pertambangan guna mendukung mesin perang Jepang.
Upaya Pencarian Kapal Lain dan Penghormatan Korban
Penemuan Hôfuku Maru juga membuka jalan bagi misi pencarian kapal-kapal serupa lainnya. Badan Akuntabilitas Tawanan Perang/Orang Hilang Pertahanan AS (DPAA) saat ini tengah memfokuskan upaya untuk mencari bangkai kapal Oryoku Maru, kapal pengangkut tawanan lain yang tenggelam di Teluk Subic pada Desember 1944. Misi ini disebut-sebut sebagai salah satu operasi arkeologi bawah air paling kompleks dan terbesar yang pernah dilakukan oleh lembaga tersebut.
Saat ini, sebuah monumen peringatan bernama Hellships Memorial telah berdiri tegak di Teluk Subic untuk menghormati jasa dan mengenang arwah para prajurit yang gugur dalam tragedi Hôfuku Maru dan kapal-kapal neraka lainnya. Pemerintah Belanda juga menyatakan komitmennya untuk bekerja sama dengan negara-negara terkait guna merumuskan langkah penghormatan yang layak bagi para korban yang jasadnya kini menyatu dengan samudra.





