Rakyatinside.com – Media sosial saat ini bukan lagi sekadar platform untuk berbagi momen pribadi atau berjejaring pertemanan. Di Indonesia, media sosial telah bertransformasi menjadi kekuatan besar yang mampu menggerakkan massa dan memengaruhi kebijakan publik, memunculkan fenomena yang dikenal luas sebagai “No Viral No Justice”.
Pergeseran fungsi ini menjadi perhatian serius para akademisi. Guru Besar Media dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (UNAIR), Prof. Dra. Rachmah Ida, M.Comms., Ph.D., mengungkapkan bahwa perkembangan media sosial kini mengikuti kebutuhan masyarakat yang semakin kompleks. Komunikasi yang dahulu didominasi oleh interaksi tatap muka, kini secara masif beralih ke ruang digital.
Pergeseran Peran dari Jejaring ke Mobilisasi Massa
Menurut Prof. Ida, perbedaan mendasar antara media massa konvensional dan media sosial terletak pada strukturnya. Media massa bekerja melalui proses jurnalistik yang terstruktur dan memiliki aturan ketat. Sebaliknya, media sosial menyediakan ruang interaksi terbuka yang memungkinkan setiap pengguna bertindak sebagai penyebar informasi tanpa sekat formal.
Dampak dari kebebasan ini sangat luas. Platform digital kini dimanfaatkan sebagai instrumen mobilisasi massa dan wadah gerakan sosial. Prof. Ida mencontohkan peristiwa Arab Spring sebagai bukti sejarah bagaimana media sosial mampu mengorganisasi gerakan masyarakat dalam skala besar. Fenomena ini membuktikan bahwa media sosial telah menjadi elemen penting dalam sistem demokrasi, karena memberikan panggung bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi secara langsung.
Dampak Praktis: Fenomena No Viral No Justice di Indonesia
Di dalam negeri, kekuatan media sosial paling nyata terlihat melalui tren “No Viral No Justice”. Istilah ini merujuk pada kondisi di mana sebuah kasus atau keluhan publik baru mendapatkan perhatian serius dari pihak berwenang atau institusi terkait setelah unggahan tersebut viral dan memicu kemarahan netizen.
Unggahan yang viral memiliki daya tekan yang luar biasa. Ketika sebuah narasi mendapatkan ribuan tanda suka, komentar, dan dibagikan secara berulang, isu tersebut akan masuk ke dalam radar publik yang lebih luas. Hal ini mendorong respons cepat dari pihak terkait yang sebelumnya mungkin lambat atau abai dalam menangani persoalan tersebut.
Pemanfaatan Media Sosial di Dunia Akademik
Selain untuk gerakan sosial, media sosial juga memiliki dampak positif di dunia pendidikan dan riset. University of Michigan melalui laporan bertajuk #SocialScholars mencatat bahwa banyak dosen dan peneliti kini menggunakan media sosial untuk menyebarluaskan hasil riset mereka. Langkah ini bertujuan agar ilmu pengetahuan tidak hanya berhenti di jurnal ilmiah, tetapi juga menjangkau masyarakat umum dan pembuat kebijakan.
Liz Kolb, seorang pendidik dari University of Michigan, menyebut media sosial sebagai alat kolaborasi yang sangat kuat. Melalui platform digital, para akademisi dapat membangun jaringan profesional global tanpa batas geografis. Hal ini memungkinkan perguruan tinggi untuk lebih terlibat aktif dalam menyelesaikan persoalan nyata yang terjadi di tengah masyarakat melalui diskusi publik yang terbuka.
Mekanisme Pembentukan Opini dan Risiko Algoritma
Bagaimana sebuah informasi bisa menjadi sangat berpengaruh di media sosial? Kajian dari Georgetown University menjelaskan bahwa peran audiens telah berubah. Masyarakat bukan lagi sekadar penerima informasi pasif, melainkan pihak yang ikut menentukan informasi apa yang layak disebarkan.
Renee DiResta dari McCourt School of Public Policy menjelaskan bahwa keterlibatan influencer dan cara kerja algoritma menciptakan siklus penguatan narasi. Melalui komentar dan pembagian ulang, sebuah isu bisa terus diperkuat hingga mendominasi opini publik. Namun, Prof. Ida mengingatkan adanya risiko besar di balik mekanisme ini. Lingkungan digital sering kali lebih mengutamakan perhatian (virality) dibandingkan akurasi data.
“Hasilnya adalah sebuah lingkungan ketika perhatian yang viral sering kali lebih diutamakan daripada akurasi, dan rumor dapat berubah menjadi kenyataan melalui pengulangan dan pembenaran,” papar Prof. Ida. Hal ini dapat mempercepat penyebaran hoaks, rumor, hingga menciptakan polarisasi di tengah masyarakat.
Tantangan Literasi Digital bagi Masyarakat
Menghadapi kekuatan media sosial yang begitu besar, Prof. Ida menegaskan pentingnya tanggung jawab dan sikap kritis dari setiap pengguna. Kemampuan untuk memilah informasi menjadi kunci utama agar masyarakat tidak terjebak dalam opini yang didasarkan pada data yang salah.
Literasi digital bukan hanya soal kemampuan teknis menggunakan aplikasi, tetapi juga kesadaran bahwa setiap individu memiliki kendali atas informasi yang mereka konsumsi dan sebarkan. Dengan literasi yang baik, media sosial dapat tetap menjadi alat perjuangan keadilan yang efektif tanpa harus mengorbankan kebenaran fakta dan kedamaian sosial.





