Kronologi dan Detail Parameter Gempa Palu
Berdasarkan data resmi dari BMKG, episenter gempa bumi ini terletak pada koordinat geografis 1,11 Lintang Selatan (LS) dan 120,32 Bujur Timur (BT). Lokasi pusat gempa secara tepat berada di darat, berjarak sekitar 54 kilometer arah Tenggara Kota Palu, Sulawesi Tengah. Gempa ini tergolong sangat dangkal karena memiliki kedalaman hiposenter hanya 11 kilometer di bawah permukaan bumi.
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menjelaskan bahwa karakteristik gempa yang dangkal ini berkaitan erat dengan struktur geologi di wilayah tersebut. Berdasarkan lokasi episenter serta kedalamannya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal. Guncangan ini dipicu langsung oleh aktivitas sesar aktif yang bergerak di kawasan Sulawesi Tengah.
Hasil analisis mekanisme sumber dari BMKG juga menunjukkan bahwa patahan tersebut mengalami pergerakan turun atau yang dikenal dalam istilah geologi sebagai normal fault. Kombinasi antara kedalaman yang dangkal dan mekanisme pergerakan ini memicu getaran yang cukup signifikan di permukaan tanah.
Daftar Wilayah yang Merasakan Dampak Guncangan
Masyarakat di beberapa kabupaten dan kota di sekitar pusat gempa merasakan getaran dengan tingkat intensitas yang bervariasi. BMKG mengukur percepatan tanah dan memodelkan peta guncangan (shakemap) untuk mengidentifikasi wilayah terdampak:
- Skala V MMI: Dirasakan di wilayah Balinggi, Parigi Moutong. Guncangan pada skala ini umumnya dirasakan oleh hampir semua penduduk, membuat orang terbangun, dan barang-barang pecah.
- Skala IV-V MMI: Dirasakan di Palolo, Sigi, serta Torue, Parigi Moutong.
- Skala III MMI: Dirasakan di Kota Sigi Biromaru dan Kota Poso. Getaran dirasakan nyata di dalam rumah seakan-akan ada truk berlalu.
- Skala II-III MMI: Dirasakan di Kota Palu, di mana getaran dirasakan oleh beberapa orang dan benda gantung bergoyang.
- Skala II MMI: Dirasakan di Kota Donggala dan Kota Pasangkayu.
Hingga informasi ini dirilis oleh BMKG, belum ada laporan mengenai dampak kerusakan fisik bangunan maupun korban jiwa akibat guncangan gempa bermagnitudo 4,9 ini.
Rangkaian Gempa Susulan Setelah Gempa Utama M 6,7
Gempa bumi M 4,9 ini bukanlah peristiwa tunggal, melainkan bagian dari rangkaian gempa susulan (aftershock). Wijayanto mengonfirmasi bahwa gempa ini dipicu oleh gempa utama (mainshock) bermagnitudo M 6,7 yang sebelumnya mengguncang Palu pada Selasa, 16 Juni 2026, pukul 10.27.45 WIB.
Aktivitas tektonik di wilayah Palu dan sekitarnya terpantau masih sangat aktif pasca-gempa utama tersebut. Berdasarkan hasil monitoring yang dilakukan BMKG hingga Rabu (17/6/2026) pukul 02.00 WIB, tercatat telah terjadi sebanyak 354 kali aktivitas gempa bumi susulan. Dari ratusan gempa susulan tersebut, magnitudo terbesar yang tercatat mencapai M 5,2.
Mengingat masih adanya potensi gempa susulan, BMKG mengimbau seluruh lapisan masyarakat di wilayah Sulawesi Tengah, khususnya di sekitar Palu, Sigi, Donggala, dan Parigi Moutong, untuk tetap tenang. Warga diminta untuk tidak mudah memercayai isu atau informasi yang tidak jelas sumbernya dan tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Pastikan selalu memantau perkembangan informasi resmi dari kanal komunikasi terpercaya BMKG.





