Rakyatinside.com — Kecelakaan kereta api Eschede tercatat sebagai salah satu tragedi transportasi perkeretaapian terburuk dalam sejarah Jerman. Peristiwa memilukan ini terjadi pada tanggal 3 Juni 1998, melibatkan kereta api cepat generasi pertama Intercity-Express (ICE) yang sedang melakukan perjalanan dari Munich menuju Hamburg. Kereta cepat tersebut mengangkut sebanyak 287 orang penumpang dan melaju dengan kecepatan tinggi mencapai 200 kilometer per jam saat melintasi wilayah Lüneburg setelah meninggalkan Hanover.
Di tengah perjalanan yang mulanya tampak biasa, beberapa penumpang sebenarnya sempat mendengar adanya suara-suara tidak normal yang berasal dari bagian bawah kereta. Namun, saat itu tidak ada satu pun penumpang atau petugas yang mengaktifkan rem darurat untuk menghentikan laju kereta cepat tersebut. Sebelum keberangkatan dimulai, pelek logam pada bagian roda kereta tersebut rupanya memang sudah berada dalam kondisi cacat. Kerusakan ini berujung fatal karena selama menempuh jarak lebih dari 6 kilometer, pecahan logam dari roda yang rusak terus-menerus merusak rel dan wesel jalan rel yang dilewatinya.
Kronologi Singkat Kecelakaan Kereta Eschede
Akibat kerusakan rel tersebut, petaka besar akhirnya terjadi ketika gerbong ketiga kereta tiba-tiba menyenggol sebuah jembatan penyeberangan jalan atau flyover road bridge. Senggolan keras ini mengakibatkan struktur jembatan penyeberangan tersebut runtuh seketika dan langsung menimpa delapan gerbong bagian belakang kereta. Seluruh proses tabrakan yang sangat mengerikan ini berlangsung sangat cepat, yakni hanya dalam waktu sekitar empat detik saja. Sementara itu, bagian depan kereta berupa lokomotif bertenaga listrik terus meluncur tanpa kendali hingga akhirnya terhenti sendirian di lokasi sejauh 2 kilometer di luar wilayah Eschede.
Tragedi mematikan ini memakan korban jiwa yang sangat besar dengan total mencapai 101 orang meninggal dunia. Dari keseluruhan korban tewas tersebut, sebanyak 99 orang merupakan penumpang kereta yang meninggal langsung di lokasi reruntuhan maupun mengembuskan napas terakhir belakangan saat menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Selain para penumpang, dua orang teknisi yang kebetulan sedang melakukan pekerjaan perawatan rutin pada rel di luar kereta juga turut menjadi korban meninggal dunia dalam peristiwa tragis ini.
Penyebab Teknis dan Penggunaan Pelek Roda
Investigasi mendalam mengungkap bahwa penyebab utama dari kecelakaan fatal ini adalah pecahnya pelek logam pada roda kereta akibat kelelahan material serta kondisi pelek roda yang memang sudah terlalu aus untuk digunakan. Diketahui bahwa kereta cepat ICE tersebut menggunakan jenis roda berpelek (rimmed wheel) yang pada awalnya dirancang khusus dengan tujuan untuk meredam kebisingan saat kereta melaju. Namun, setelah tragedi Eschede ini terjadi, pihak operator perkeretaapian Deutsche Bahn akhirnya memutuskan untuk kembali menggunakan jenis roda padat demi menjamin keamanan perjalanan.
Tuntutan Hukum dan Sanksi Denda
Tragedi ini juga menyisakan luka mendalam dan kemarahan bagi para korban selamat serta pihak keluarga korban tewas. Mereka melayangkan tuduhan serius kepada pihak maskapai Deutsche Bahn karena dinilai telah mengabaikan berbagai indikasi kelelahan bahan atau material saat melakukan pemeriksaan roda kereta sebelumnya. Kasus hukum ini akhirnya bergulir di pengadilan Lüneburg, hingga pada tahun 2003, pengadilan memutuskan untuk menghentikan kasus hukum terhadap tiga orang insinyur Deutsche Bahn dengan memberikan sanksi hukuman berupa denda masing-masing sebesar €10.000.





