rakyatinside.com – Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data terbaru mengenai performa perdagangan internasional Indonesia sepanjang periode Januari hingga April 2026. Dalam laporan tersebut, neraca perdagangan Indonesia tercatat masih mengalami ketimpangan atau defisit yang cukup dalam dengan tiga negara mitra utama, yaitu China, Australia, dan Argentina. Defisit perdagangan paling besar dialami Indonesia saat bertransaksi dengan China, di mana angka tekornya menembus minus hingga US$8,03 miliar.
Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini, mengungkapkan bahwa jurang defisit yang lebar dengan China terjadi karena nilai ekspor Indonesia ke negara tersebut hanya mampu menyentuh angka US$22,76 miliar. Sebaliknya, keran impor dari Negeri Tirai Bambu mengalir sangat deras hingga mencapai nilai US$30,79 miliar. Tingginya angka impor ini didominasi oleh pasokan barang-barang modal dan bahan baku industri manufaktur, seperti mesin dan peralatan mekanis, mesin dan perlengkapan elektrik, serta produk plastik.
Selain dengan China, Indonesia juga harus menerima kenyataan tekor dagang dengan Australia sebesar US$3,05 miliar. Ketimpangan ini disebabkan oleh nilai ekspor Indonesia ke Australia yang sangat minim, yaitu hanya US$1,10 miliar, sementara angka impornya melonjak hingga US$4,15 miliar. Sejumlah komoditas utama yang menjadi biang kerok defisit dengan Negeri Kanguru tersebut antara lain adalah logam mulia, perhiasan atau permata, serealia, hingga bahan bakar mineral. Di posisi ketiga, Argentina menyumbang defisit bagi Indonesia sebesar US$730 juta, yang didorong oleh tingginya impor bahan pangan seperti serealia, ampas sisa industri makanan, serta komoditas laut seperti krustasea dan moluska.
Meskipun harus menanggung defisit di tiga negara tersebut, kinerja perdagangan luar negeri Indonesia secara keseluruhan terselamatkan berkat surplus besar dari negara mitra lainnya. Amerika Serikat menjadi penyumbang surplus terbesar bagi kas negara dengan nilai mencapai US$5,76 miliar. Posisi kedua ditempati oleh India yang menyumbang surplus sebesar US$4,41 miliar, diikuti oleh Filipina di urutan ketiga dengan kontribusi surplus sebesar US$2,93 miliar.
Secara kumulatif dari Januari hingga April, neraca perdagangan Indonesia secara total masih mampu mencatatkan rapor hijau dengan akumulasi surplus sebesar US$5,64 miliar. Angka penyelamat ini ditopang kuat oleh performa ekspor komoditas non-migas yang mencetak surplus gemilang hingga US$14,16 miliar. Kekuatan sektor non-migas ini berhasil menutupi defisit klasik pada sektor minyak dan gas (migas) nasional yang masih mengalami tekor sebesar US$8,52 miliar pada periode yang sama.





