Langkah KKP dan DANA Cegah Kebocoran Sampah Plastik ke Laut

  • Bagikan
Aksi kolaborasi KKP dan DANA Indonesia bersihkan sampah plastik di Pantai Petitenget Bali
Aksi kolaborasi KKP dan DANA Indonesia bersihkan sampah plastik di Pantai Petitenget Bali

Tantangan Sampah dari Darat dan Dampaknya terhadap Laut

Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP, Koswara, menjelaskan bahwa populasi sampah di laut didominasi oleh aktivitas di darat, khususnya sampah rumah tangga. Penanganan sampah yang sudah terlanjur masuk ke wilayah perairan jauh lebih sulit dilakukan serta membutuhkan biaya operasional yang jauh lebih besar dibandingkan pencegahan dari hulu.

Keberadaan sampah di laut tidak hanya mengotori pemandangan, tetapi juga mengancam keberlangsungan ekosistem laut secara keseluruhan. Sampah plastik yang mengapung lambat laun akan terurai menjadi partikel mikroplastik yang berbahaya bagi biota laut dan kesehatan manusia yang mengonsumsi hasil laut tersebut. Oleh karena itu, sinergi dari seluruh lapisan masyarakat sangat dibutuhkan agar sampah darat tidak berakhir di laut.

Strategi Nasional Melalui Program “Sebasah”

Guna mengatasi masalah ini secara struktural, KKP telah menjalin kemitraan dengan tiga pemerintah daerah utama, yaitu Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Bali. Kerja sama ini difokuskan pada penguatan sistem pengelolaan sampah di darat agar tidak lolos ke wilayah perairan.

Selain itu, KKP juga meluncurkan program nasional bertajuk Laut Sehat Bebas Sampah (Sebasah). Program ini menerapkan dua pilar strategi utama. Pertama, melakukan pencegahan masuknya sampah ke laut melalui pengawasan ketat di empat titik pantau krusial. Keempat titik tersebut meliputi sungai utama yang bermuara ke laut, wilayah desa pesisir termasuk Kampung Nelayan Merah Putih, pulau-pulau kecil berpenduduk, serta pelabuhan dan area aktivitas pelayaran.

Strategi kedua dari program Sebasah adalah penanganan langsung terhadap sampah-sampah yang saat ini sudah telanjur berada di laut. Koswara menegaskan bahwa pengelolaan sampah di wilayah masing-masing merupakan kunci utama pencegahan kebocoran sampah ke laut.

Baca Juga:  Rosan Perkasa Apresiasi Peluncuran Sepuluh Buku Karya Bahlil Lahadalia di Jakarta

Aksi Bersama di Pantai Petitenget Bali

Sebagai wujud nyata dari kolaborasi ini, sebuah aksi pembersihan pantai (beach clean-up) digelar di Pantai Petitenget, Kabupaten Badung, Bali, pada Sabtu, 13 Juni 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian pra-acara Ocean Impact Summit (OIS) 2026 sekaligus memperingati World Ocean Day dan Coral Triangle Day yang jatuh pada bulan Juni.

Aksi ini juga selaras dengan Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries, and Food Security (CTI-CFF), di mana pengelolaan limbah pesisir dan penanganan sampah laut menjadi salah satu agenda prioritas nasional Indonesia. Melalui keterlibatan aktif komunitas lokal, universitas, masyarakat sekitar, hingga karyawan DANA, aksi bersih-bersih ini berhasil mengumpulkan total 317,3 kilogram sampah dari area pantai.

Peran Teknologi dan Fitur Ocean Buddy dari DANA

DANA Indonesia meyakini bahwa inovasi teknologi memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung gaya hidup yang bertanggung jawab dan ramah lingkungan. Director of Communications DANA Indonesia, Olavina Harahap, menyatakan bahwa inovasi teknologi harus berjalan beriringan dengan kesadaran kolektif masyarakat untuk menjaga masa depan lingkungan demi tercapainya target Blue Economy di Indonesia.

Sebagai langkah edukasi yang menyenangkan, DANA menghadirkan kembali program edukasi “Ocean Buddy”. Program ini merupakan game interaktif di dalam aplikasi DANA yang mengajak pengguna berkontribusi langsung dalam upaya konservasi laut, khususnya perlindungan spesies hiu paus di Indonesia. Sejak pertama kali diluncurkan pada Oktober tahun lalu, fitur interaktif ini telah berhasil menarik perhatian dan digunakan oleh lebih dari 13 juta pengguna aplikasi DANA.

Komitmen Transaksi Digital Ramah Lingkungan

Dukungan DANA terhadap kelestarian lingkungan juga tecermin dari efisiensi karbon dalam setiap aktivitas transaksi digital di platformnya. Berdasarkan data dari Sustainability Report 2024, setiap transaksi yang dilakukan melalui aplikasi DANA hanya menghasilkan emisi sekitar 0,14 gram CO2e.

Baca Juga:  Heboh Lagu AI 'Mas Bahlil Ganteng' Jadi Sorotan Dunia, Media Singapura Ulas Sisi Unik Politik Indonesia

Jumlah emisi karbon ini sangat rendah, yakni hanya setara dengan sekitar 3 persen dari emisi yang dihasilkan oleh pengiriman satu email biasa yang rata-rata menghasilkan emisi sebesar 4 gram CO2e. Hal ini menunjukkan bahwa adopsi transaksi nontunai juga berkontribusi pada pengurangan jejak karbon harian masyarakat.

Mendorong Ekonomi Biru Lewat Ocean Impact Summit 2026

Seluruh inisiatif lingkungan ini bermuara pada persiapan Ocean Impact Summit (OIS) 2026. Forum global ini dirancang untuk mempertemukan para pemimpin pemerintahan, akademisi, dan pelaku industri global guna mendiskusikan potensi Blue Economy melalui kolaborasi lintas sektor, inovasi teknologi, serta solusi berkelanjutan.

Melalui forum OIS 2026, diharapkan kebijakan, investasi, dan kemitraan strategis dapat diperkuat demi mendukung target iklim global serta menyukseskan agenda UN Decade of Ocean Science.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *