Pemerintah Butuh Empat Juta Kiloliter Etanol Guna Sukseskan Program E20

  • Bagikan
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjelaskan program bauran bioetanol E20 untuk menekan impor bensin
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjelaskan program bauran bioetanol E20 untuk menekan impor bensin

Rakyatinside.com, Jakarta – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah memetakan strategi besar untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus menekan angka impor bahan bakar minyak (BBM) jenis bensin yang masih sangat tinggi. Salah satu langkah konkret yang disiapkan pemerintah adalah melalui implementasi program bauran bioetanol E20. Program ini dirancang untuk mencampurkan bensin nasional dengan 20 persen bahan bakar nabati berupa etanol.

Untuk menyukseskan program E20 tersebut, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa pemerintah membutuhkan pasokan etanol dalam jumlah yang sangat besar, yakni sekitar 4 juta kiloliter (KL) per tahun. Kehadiran program ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap pasokan bahan bakar fosil dari luar negeri yang selama ini membebani anggaran belanja negara.

Mengatasi Ketergantungan Tinggi pada Impor Bensin

Berdasarkan data pemetaan Kementerian ESDM, kebutuhan bensin nasional saat ini mencapai sekitar 40 juta KL setiap tahunnya. Namun, kapasitas produksi kilang di dalam negeri saat ini baru mampu memenuhi sekitar 14,3 juta KL saja. Kondisi ini menyebabkan Indonesia harus mengimpor hampir 25 juta KL bensin per tahun untuk mencukupi kebutuhan masyarakat.

Guna mengatasi tantangan tersebut, pemerintah melakukan upaya ganda melalui peningkatan kapasitas kilang dalam negeri dan program bauran energi terbarukan. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjelaskan bahwa salah satu proyek strategis nasional, yaitu Kilang Balikpapan, dijadwalkan akan diresmikan pada bulan Januari 2026 mendatang.

“Kebutuhan bensin kita itu kurang lebih sekitar 40 juta KL dan dari 40 juta KL itu, kapasitas produksi kita itu hanya 14,3 juta KL, jadi impornya hampir 25 juta KL. Namun begitu, kilang Balikpapan yang kita resmikan di Januari 2026 bertambah produksinya 5,5 juta KL bensin sehingga menyisakan impor bensin sekitar 20 juta KL,” ujar Bahlil Lahadalia dalam keterangan tertulisnya.

Baca Juga:  Misi Besar AHY di Rusia: Tawarkan Megaproyek Giant Sea Wall Jawa dan Investasi Pelabuhan Strategis RI

Meskipun tambahan produksi sebesar 5,5 juta KL dari Kilang Balikpapan akan sangat membantu, Indonesia masih dihadapkan pada sisa kekurangan pasokan bensin sekitar 20 juta KL yang harus diimpor setiap tahun. Di sinilah program bauran bioetanol E20 berperan penting sebagai solusi substitusi energi impor dengan bahan bakar ramah lingkungan berbasis potensi lokal.

Pemberdayaan Petani Lewat Skema Off-Taker

Pemerintah tidak hanya fokus pada aspek ketahanan energi, tetapi juga melihat program E20 sebagai peluang emas untuk memajukan sektor pertanian nasional. Bahan baku utama yang akan digunakan untuk memproduksi 4 juta KL etanol tersebut berasal dari komoditas pertanian lokal yang melimpah di Indonesia, yaitu tebu, singkong, dan jagung.

Untuk memberikan kepastian usaha bagi para petani dan pelaku usaha hulu, pemerintah berkomitmen penuh untuk bertindak sebagai pembeli utama atau off-taker dari seluruh produksi etanol yang dihasilkan. Langkah ini diharapkan dapat menciptakan ekosistem industri bioenergi yang berkelanjutan dari hulu hingga hilir.

“Untuk mengurangi impor yang tersisa 20 juta KL, maka kita akan menerapkan program E20 yang idenya berangkat dari kesuksesan program B10 hingga B50. Kita bikin etanol dengan bahan bakunya dari tebu, singkong dan jagung dengan total produksi yang diperlukan 4 juta KL. Pemerintah akan menjadi off-taker produksi etanol yang dihasilkan petani,” tutur Bahlil.

Dengan adanya jaminan penyerapan hasil panen oleh pemerintah, para petani tebu, singkong, dan jagung di berbagai daerah diharapkan mendapatkan nilai tambah ekonomi yang signifikan. Hal ini sekaligus mendorong gairah sektor pertanian dalam mendukung kemandirian energi nasional.

Belajar dari Keberhasilan Program Biodiesel

Keputusan pemerintah untuk meluncurkan program E20 didasarkan pada rekam jejak kesuksesan program biodiesel berbasis kelapa sawit di sektor solar. Sebagaimana diketahui, program bauran solar nabati telah berhasil berkembang secara bertahap mulai dari B10 hingga kini mencapai B50. Keberhasilan tersebut membuktikan bahwa Indonesia memiliki kapasitas untuk menerapkan formula serupa pada sektor bahan bakar bensin.

Baca Juga:  India Percepat Proyek Gasifikasi Batu Bara Demi Mengurangi Ketergantungan Impor Energi Glo

Selain memberikan dampak positif secara ekonomi melalui pengurangan impor bensin dan pemberdayaan petani, implementasi program E20 juga mengemban misi lingkungan yang penting. Program ini merupakan bagian integral dari peta jalan pemerintah dalam menekan emisi karbon nasional serta mencapai target net zero emission (NZE) pada tahun 2060, atau bahkan bisa terealisasi lebih cepat dari target tersebut.

Melalui kolaborasi sinergis antara sektor energi, pertanian, dan industri pengolahan, program E20 diharapkan dapat segera berjalan dengan optimal demi mewujudkan kedaulatan energi yang tangguh dan berkelanjutan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *