Riset UGM Ungkap Sisi Lain Workaholic: Mengapa Gila Kerja Justru Bikin Karyawan Bahagia?

  • Bagikan

rakyatinside.com – Fenomena gila kerja atau workaholic sering kali diidentikkan dengan dampak buruk seperti stres berat, kelelahan fisik, hingga burnout. Namun, sebuah temuan ilmiah terbaru dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) justru mengungkap realitas yang berbeda. Berdasarkan riset mendalam terhadap lebih dari 400 karyawan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Indonesia, kecenderungan bekerja berlebihan tidak selamanya merugikan kesejahteraan mental pekerja. Sebaliknya, dalam ekosistem kerja yang tepat, dedikasi tinggi ini justru mampu meningkatkan kebahagiaan dan kepuasan kerja secara signifikan.

Kunci dari anomali ini terletak pada konsep thriving at work, yaitu sebuah kondisi psikologis di mana seorang karyawan merasa dirinya terus tumbuh, belajar hal baru, dan tetap produktif secara konsisten. Penelitian yang dipimpin oleh Guru Besar Departemen Manajemen FEB UGM, Prof. Reni Rosari, bertajuk “Inclusive Leadership and Workplace Happiness: Thriving as Mediator and Workaholism as Moderator in Indonesia“, menjelaskan bahwa bekerja keras tidak akan terasa menyiksa jika karyawan merasakan adanya perkembangan personal. Ketika tantangan pekerjaan diimbangi dengan kesempatan belajar yang luas, rasa lelah bertransformasi menjadi kepuasan pencapaian yang mendalam.

Tentu saja, kebahagiaan para workaholic ini tidak muncul di ruang hampa. Di sinilah peran krusial dari inclusive leadership atau kepemimpinan inklusif. Gaya kepemimpinan ini tidak hanya berorientasi pada pemenuhan target atau angka-angka kuantitatif semata. Pemimpin yang inklusif adalah mereka yang aktif mendengarkan aspirasi bawahan, menghargai kontribusi setiap individu tanpa diskriminasi, serta memberikan ruang aman bagi karyawan untuk berinovasi dan berkembang. Dukungan emosional dan profesional dari atasan inilah yang menjadi tameng pelindung karyawan dari ancaman stres kerja ekstrem.

Baca Juga:  6 Bulan Pascabencana, Puluhan Sekolah di Aceh Masih Belajar di Tenda Darurat: Siswa Ujian Sambil Angkat Meja Sendiri

Menariknya, penelitian ini juga menyoroti aspek budaya kerja lokal di Indonesia yang cenderung kolektif dan hierarkis. Di banyak instansi, termasuk BUMN, bekerja ekstra keras sering kali dipandang sebagai cerminan loyalitas, dedikasi, serta nilai moral yang tinggi. Oleh sebab itu, menciptakan lingkungan kerja yang suportif jauh lebih efektif untuk meningkatkan produktivitas ketimbang sekadar menawarkan fasilitas fisik atau bonus finansial belaka.

Manajemen perusahaan modern perlu menyadari bahwa kebahagiaan kerja sejati berakar dari hubungan interpersonal yang sehat antara atasan dan bawahan. Ketika para pemimpin mampu memanusiakan karyawannya dan memfasilitasi ruang tumbuh, maka kerja keras tidak lagi menjadi beban, melainkan sebuah sumber kebahagiaan dan aktualisasi diri yang bermakna bagi karyawan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *