Wamen Stella Christie Sebut Kampus Luar Negeri Bantu Tambah Dana Riset Indonesia

  • Bagikan
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie memberikan penjelasan mengenai dampak positif kampus
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie memberikan penjelasan mengenai dampak positif kampus

Rakyatinside.com – Keberadaan cabang perguruan tinggi luar negeri di Indonesia kini tengah menjadi sorotan hangat di kalangan akademisi dan pembuat kebijakan. Isu ini mencuat setelah adanya usulan dari pihak akademisi dalam negeri untuk mengevaluasi kembali izin operasional kampus-kampus asing tersebut. Menanggapi hal ini, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie memberikan penjelasan komprehensif mengenai dampak positif dan kontribusi nyata yang dibawa oleh perguruan tinggi internasional bagi ekosistem pendidikan tinggi di Indonesia.

Diskusi mengenai keberadaan perguruan tinggi luar negeri ini berawal dari pernyataan Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Dr Wening Udasmoro. Dalam sebuah kesempatan, Wening menyarankan agar pemerintah melakukan peninjauan ulang terhadap kehadiran kampus-kampus asing yang semakin marak membuka cabang di tanah air. Beberapa nama besar yang telah beroperasi di antaranya adalah Monash University, Deakin-Lancaster University, hingga King’s College London.

Menurut pandangan Wening, evaluasi mendalam sangat diperlukan untuk melihat secara objektif sejauh mana keberadaan institusi pendidikan asing tersebut memberikan manfaat bagi Indonesia. Pernyataan ini disampaikan secara resmi dalam rapat dengar pendapat panitia kerja (panja) seleksi penerimaan mahasiswa baru bersama Komisi X DPR RI pada hari Rabu, 24 Juni 2026. Wening menekankan pentingnya mengkaji ulang apakah masuknya kampus luar negeri benar-benar membawa dampak positif yang signifikan atau justru sebaliknya.

Tanggapan Stella Christie: Fokus pada Hasil Nyata

Merespons usulan evaluasi tersebut, Wamendiktisaintek Stella Christie menegaskan bahwa penilaian terhadap perguruan tinggi luar negeri harus didasarkan pada hasil konkret yang telah dicapai, bukan sekadar berdasarkan persepsi semata. Menurut Stella, data di lapangan menunjukkan bahwa kehadiran kampus-kampus asing ini telah memberikan kontribusi yang sangat besar, terutama dalam hal penyediaan dana riset yang dikerjakan secara kolaboratif dengan akademisi lokal.

Pernyataan tersebut disampaikan Stella di sela-sela menghadiri acara Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) yang berlangsung di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, pada hari Sabtu, 27 Juni 2026. Stella menggarisbawahi bahwa kerja sama penelitian antara peneliti asing dan peneliti Indonesia merupakan kunci utama dalam memaksimalkan potensi transfer teknologi dan pengetahuan.

Baca Juga:  Pemadaman Listrik Bergilir, Dosen Teknik UMM Ungkap Bahaya yang Jarang Disadari

Sebagai contoh konkret, Stella menyebutkan kiprah Monash University yang telah berhasil membawa dana riset dalam jumlah yang cukup besar ke Indonesia. Dana tersebut tidak dikelola secara mandiri oleh pihak asing, melainkan diintegrasikan ke dalam proyek-proyek penelitian bersama yang melibatkan para ilmuwan dan peneliti dari berbagai institusi pendidikan tinggi di dalam negeri.

Kolaborasi Program RISE dan Universitas Hasanuddin

Untuk memperkuat argumennya, Stella memaparkan salah satu contoh proyek kolaborasi nyata yang telah memberikan dampak langsung kepada masyarakat luas. Proyek tersebut adalah program RISE, yang merupakan singkatan dari Revitalising Informal Settlements and their Environments. Program riset ini berfokus pada pengembangan sistem sanitasi bersih di kawasan pemukiman yang padat penduduk.

Program RISE ini dijalankan melalui kemitraan strategis antara pihak Monash University dengan Universitas Hasanuddin (Unhas) yang berbasis di Makassar, Sulawesi Selatan. Kolaborasi ini menjadi bukti nyata bahwa kehadiran universitas luar negeri mampu menyentuh persoalan mendasar masyarakat lokal melalui pendekatan ilmiah yang inovatif.

Stella menjelaskan bahwa penelitian dalam program RISE berfokus pada masalah pemukiman padat. Di area-area seperti ini, limbah toilet sering kali merembes dan menyebar ke dalam tanah tanpa disadari oleh masyarakat sekitar karena keterbatasan lahan untuk membangun tangki septik (septic tank) konvensional yang memenuhi standar kesehatan.

Melalui riset kolaboratif ini, para peneliti berhasil merancang sebuah sistem tangki septik khusus yang dirancang untuk lahan terbatas. Keunikan dari sistem ini adalah penggunaan tanaman alami sebagai media penyaring, alih-alih menggunakan bahan-bahan kimia yang berpotensi mencemari lingkungan. Hasil dari inovasi ini dinilai sangat efektif dan memberikan solusi sanitasi yang ramah lingkungan bagi warga setempat.

Dengan adanya contoh keberhasilan tersebut, Stella mengajak publik untuk melihat bahwa keberadaan universitas berkualitas global di Indonesia membuka akses yang lebih luas bagi akademisi dalam negeri untuk mendapatkan pendanaan riset internasional. Dana riset dari negara asal kampus-kampus tersebut kini dapat diakses dan dimanfaatkan untuk membiayai penelitian yang relevan dengan kebutuhan pembangunan di Indonesia.

Baca Juga:  Bingung Buat Olah Data Skripsi? Ini Solusi Mudah dan Cepat

Meningkatkan Indeks Sitasi Ilmiah Indonesia

Selain membawa dampak finansial berupa dana riset, kehadiran kampus luar negeri juga dinilai mampu mendongkrak reputasi ilmiah Indonesia di kancah global. Salah satu indikator utama yang digunakan untuk mengukur kualitas riset suatu negara adalah Field-Weighted Citation Index (FWCI). Indeks ini mengukur seberapa sering karya ilmiah yang dihasilkan oleh peneliti suatu negara dikutip atau dijadikan rujukan oleh ilmuwan lain di seluruh dunia.

Stella mengungkapkan bahwa saat ini indeks sitasi ilmiah Indonesia masih tergolong rendah, yaitu berada di bawah angka satu. Berdasarkan data terakhir yang dimilikinya, skor indeks sitasi Indonesia berada di kisaran 0,84. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas dan daya jangkau hasil riset nasional masih perlu ditingkatkan agar setara dengan standar global.

Namun, Stella optimis bahwa melalui kolaborasi riset internasional yang difasilitasi oleh kampus-kampus asing di Indonesia, angka indeks tersebut dapat mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Berdasarkan pola yang terjadi secara global, kerja sama antara peneliti lokal dengan ilmuwan internasional terbukti mampu menaikkan indeks sitasi secara drastis.

Ia memproyeksikan bahwa dengan kemitraan yang kuat, indeks sitasi ilmiah Indonesia yang semula hanya 0,84 berpotensi melonjak hingga mencapai angka sekitar 3,2 sekian. Peningkatan ini tentu akan menempatkan hasil karya ilmuwan Indonesia di posisi yang lebih terhormat dalam peta perkembangan ilmu pengetahuan dunia.

Regulasi dan Kriteria Pendirian Kampus Asing

Pemerintah sendiri telah mengatur secara ketat legalitas dan operasionalisasi perguruan tinggi dari negara lain di Indonesia. Aturan tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Permendikbudristek) Nomor 23 Tahun 2023 tentang Penyelenggaraan Perguruan Tinggi Lembaga Negara Lain.

Berdasarkan Bab II dalam peraturan tersebut, hanya perguruan tinggi lembaga negara lain yang telah terakreditasi atau diakui secara resmi di negara asalnya yang diperbolehkan menyelenggarakan pendidikan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Selain itu, terdapat kriteria ketat yang harus dipenuhi oleh universitas asing tersebut, di antaranya:

  • Perguruan tinggi asing tersebut harus masuk dalam jajaran peringkat 200 terbaik di tingkat dunia.
  • Perguruan tinggi tersebut wajib memiliki program studi yang juga masuk dalam peringkat 200 terbaik di dunia.
  • Menteri memiliki wewenang untuk menetapkan kriteria tambahan di luar ketentuan di atas guna memenuhi kebutuhan pembangunan nasional.
Baca Juga:  Kuliah Jalur Bersama: Kemdiktisaintek Kaji Gabungkan Seleksi Masuk PTN dan PTS, Apa Kendalanya?

Setelah memenuhi kriteria kualifikasi tersebut, pihak universitas asing diwajibkan untuk mengajukan izin resmi kepada menteri terkait. Proses penyelenggaraan pendidikan juga harus dilakukan di lokasi atau wilayah yang telah disetujui oleh kementerian. Untuk mendukung operasionalnya, tenaga pendidik (dosen) serta tenaga kependidikan dapat direkrut dari warga negara Indonesia (WNI) maupun warga negara asing (WNA) yang kompeten.

Daftar Kampus Luar Negeri yang Telah Beroperasi

Hingga saat ini, tercatat sudah ada beberapa universitas internasional ternama yang secara resmi membuka cabang dan menyelenggarakan kegiatan perkuliahan di wilayah Indonesia. Kampus-kampus tersebut tersebar di beberapa kota besar, antara lain:

  • Monash University: Berlokasi di kawasan BSD, Banten, yang berasal dari Australia.
  • Deakin-Lancaster University: Berlokasi di Regol, Bandung, Jawa Barat, yang merupakan kolaborasi antara institusi Australia dan Inggris.
  • Western Sydney University: Berlokasi di Surabaya, Jawa Timur, yang berasal dari Australia.
  • King’s College London: Berlokasi di Singosari, Malang, Jawa Timur, yang berasal dari Inggris.

Langkah ekspansi institusi pendidikan dunia ke Indonesia ini tampaknya akan terus berkembang di masa depan. Beberapa waktu lalu, Presiden Prabowo Subianto bahkan secara aktif mengundang sejumlah perguruan tinggi terkemuka dari Inggris untuk bekerja sama membangun 10 universitas baru berstandar internasional di Indonesia.

Rencana pembangunan 10 universitas baru ini dirancang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar utama dalam proses belajar mengajar. Fokus utama dari institusi-institusi baru ini nantinya adalah pada bidang-bidang strategis yang sangat dibutuhkan oleh Indonesia, seperti pendidikan kedokteran, kedokteran gigi, farmasi, serta bidang sains dan teknologi. Kolaborasi ini diharapkan dapat mempercepat peningkatan kualitas sumber daya manusia di tanah air.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *