Dari Palembang ke Jakarta, UMKM Pempek Ini Eksis dari Bazar ke Bazar

  • Bagikan
Dari Palembang ke Jakarta, UMKM Pempek Ini Eksis dari Bazar ke Bazar
Dari Palembang ke Jakarta, UMKM Pempek Ini Eksis dari Bazar ke Bazar

Rakyatinside.com – Merantau ke ibu kota sering kali menuntut seseorang untuk beradaptasi dengan berbagai perubahan, termasuk selera kuliner. Inilah yang dialami oleh Nyayu Maryati, seorang perantau asal Palembang yang pindah ke Jakarta pada tahun 2010. Berawal dari rasa rindu akan hidangan kampung halaman, ia kini sukses mengelola usaha kuliner khas Palembang bernama Pempek Rafi 81.

Awal Mula Perjalanan Bisnis

Perjalanan usaha Nyayu tidak dimulai dengan kemudahan. Setelah empat tahun menetap di Jakarta, titik balik kehidupannya terjadi pada pertengahan 2014 ketika sang suami memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya. Kondisi ekonomi keluarga yang menipis menjadi pendorong bagi Nyayu untuk mulai berwirausaha. Pada Desember 2014, dengan modal nekat sebesar Rp 2 juta, ia memberanikan diri membuka warung pempek sederhana di sebuah kios.

Nama “Rafi 81” dipilih dengan penuh makna. “Rafi” diambil dari nama anak sulungnya yang berarti meninggikan, sedangkan “81” berasal dari tanggal dan bulan lahir suaminya, 8 Januari. Angka tersebut diharapkan membawa keberuntungan dan kesuksesan bagi usaha mereka agar rezekinya mengalir tak terputus dan usahanya menjadi yang utama.

Adaptasi Rasa dan Strategi Pasar

Sebagai pendatang baru, Nyayu menghadapi tantangan berupa selera konsumen Jakarta yang cenderung sensitif terhadap aroma ikan yang tajam. Untuk menyiasatinya, ia sempat menerapkan strategi kompromi rasa dengan menyesuaikan komposisi tepung dan ikan pada awal merintis usaha. Namun, segalanya berubah ketika ia bergabung dengan Rumah BUMN BRI pada tahun 2018.

Melalui pendampingan tersebut, Nyayu mendapatkan pelatihan mengenai branding, pembukuan, hingga pemasaran digital. Ia disarankan untuk kembali menonjolkan keotentikan rasa pempek khas Palembang yang kaya akan ikan. Untuk menjawab kebutuhan pasar yang beragam, ia kini menawarkan tiga varian produk:

  • Varian Premium: Menggunakan Ikan Tenggiri asli dengan rasio daging ikan yang tinggi untuk pencinta pempek otentik.
  • Varian Harian: Menggunakan bahan baku Ikan Kakap, ditujukan bagi masyarakat kelas menengah dengan harga terjangkau.
  • Varian Ekonomis: Menggunakan Udang Rebon sebagai pengganti daging ikan, mirip dengan konsep pempek gerobakan.
Baca Juga:  Presiden Prabowo Soroti Usulan Dana Riset dari Laba BUMN di Indonesia

Strategi Bertahan di Masa Sulit

Pandemi COVID-19 sempat menghantam usaha Nyayu hingga ia terpaksa menutup warung fisiknya. Namun, berkat bekal ilmu dari pelatihan, ia beralih ke sistem Pre-Order (PO) online dan aktif mengikuti berbagai bazar UMKM. Strategi “nomaden” dari satu bazar ke bazar lain terbukti efektif. Dengan statusnya sebagai UMKM binaan, ia sering mendapatkan fasilitas pameran dengan biaya yang lebih ringan.

Hasilnya sangat signifikan. Saat mengikuti bazar di ajang Indonesia Open, ia berhasil meraup omzet di atas Rp 12 juta hanya dalam waktu enam hari. Selain itu, ia juga merambah pasar mahasiswa di Universitas Bina Nusantara (Binus), di mana ia mampu mencatatkan omzet hingga Rp 6-7 juta dalam tiga hari saja. Dalam satu bulan, jika rutin mengikuti bazar, Nyayu bisa mengantongi omzet berkisar antara Rp 20 juta hingga lebih dari Rp 25 juta.

Pemanfaatan Teknologi Digital

Dalam operasionalnya, Nyayu memanfaatkan ekosistem digital untuk menjangkau pelanggan. Ia menggunakan WhatsApp Business dan Google My Business agar lokasinya mudah ditemukan pelanggan. Untuk transaksi, ia mengandalkan QRIS BRI yang dinilai sangat membantu efisiensi operasional.

Penggunaan QRIS BRI memberikan kemudahan karena pelanggan tidak perlu membawa uang tunai, dan ia tidak perlu lagi repot menyediakan uang kembalian. Selain itu, sistem notifikasi yang terintegrasi langsung ke WhatsApp melalui BRI Notif memudahkannya dalam memantau arus kas secara real-time. Kemudahan ini memungkinkan Nyayu untuk tetap melayani pelanggan sambil mengelola pembukuan usaha dengan lebih tenang.

Testimoni Pelanggan

Kehadiran Pempek Rafi 81 di berbagai lokasi strategis, termasuk kampus, mendapatkan respons positif. Mahasiswa seperti Rian mengungkapkan bahwa rasa ikannya sangat terasa dan padat, berbeda dengan pempek gerobakan pada umumnya. Senada dengan itu, Dinda, seorang mahasiswa perantau, merasa bahwa pempek buatan Nyayu mampu mengobati kerinduannya akan kampung halaman karena rasanya yang sangat autentik dan tidak amis.

Baca Juga:  Bakom Buka Suara Terkait Penunjukan Komisaris BUMN Berlatar Belakang Berbeda
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *