DLHK Depok Angkut Sampah Menumpuk yang Viral di TPS Tanah Baru

  • Bagikan
Petugas DLHK Kota Depok mengangkut tumpukan sampah di TPS Tanah Baru, Beji.
Petugas DLHK Kota Depok mengangkut tumpukan sampah di TPS Tanah Baru, Beji.

Rakyatinside.com – Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Depok bergerak cepat merespons keluhan warga terkait penumpukan sampah di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Tanah Baru, Kecamatan Beji, Depok. Langkah pengangkutan sampah ini dilakukan setelah sebuah video yang memperlihatkan kondisi TPS tersebut viral di media sosial.

Dalam video yang beredar luas di media sosial, terlihat tumpukan sampah yang menggunung hingga melebihi ketinggian tembok pembatas TPS Tanah Baru. Kondisi ini memicu aroma tidak sedap yang menyengat, sehingga mengganggu kenyamanan warga dan pengguna jalan yang melintas, mengingat lokasi TPS berada tepat di pinggir jalan raya yang cukup sibuk.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Depok, Reni Nuraeni, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah mulai melakukan pengangkutan sampah sejak Senin (15/6). Upaya pembersihan ini dilakukan secara bertahap untuk mengembalikan fungsi TPS agar tidak lagi mengganggu aktivitas masyarakat sekitar.

Penyebab Utama Penumpukan Sampah di TPS Tanah Baru

Menurut penjelasan Reni Nuraeni pada Selasa (16/6), terdapat beberapa kendala utama yang menyebabkan terjadinya penumpukan sampah hingga meluber di TPS Tanah Baru. Kendala pertama adalah keterbatasan armada pengangkut serta alat berat, sehingga DLHK harus menerapkan sistem pengangkutan terjadwal.

Faktor kedua adalah tingginya volume sampah harian di lokasi tersebut. TPS Tanah Baru berada di kawasan perlintasan dan dikelilingi oleh permukiman warga yang padat penduduk. Volume sampah ini biasanya mengalami peningkatan yang cukup signifikan setelah hari libur atau akhir pekan (weekend).

Selain itu, kendala ketiga berkaitan dengan kapasitas daya tampung TPS itu sendiri. Reni menyebutkan bahwa kapasitas TPS Tanah Baru saat ini sudah tidak seimbang dengan volume sampah yang masuk setiap harinya. Akibatnya, TPS selalu terlihat penuh dan melebihi kapasitas (overload).

Baca Juga:  Argentina Melaju ke Final Piala Dunia Setelah Kalahkan Inggris Lewat Drama

Faktor keempat yang memperburuk situasi adalah keterlambatan frekuensi pengangkutan sampah menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Ketika frekuensi pengangkutan berkurang, volume sampah yang masuk ke TPS menjadi jauh lebih besar dibandingkan dengan sampah yang berhasil dikeluarkan. Padahal, TPS hanya berfungsi sebagai tempat penampungan sementara sebelum sampah dibawa ke tempat pemrosesan akhir.

Terakhir, terdapat kendala operasional teknis seperti kerusakan pada armada pengangkut sampah yang terkadang menghambat kelancaran proses distribusi sampah dari TPS ke TPA.

Langkah Solutif dan Kolaborasi Pengelolaan Sampah

Untuk mengantisipasi agar permasalahan serupa tidak terus berulang di masa mendatang, DLHK Kota Depok telah menyiapkan sejumlah langkah perbaikan sistematis. Salah satu fokus utamanya adalah melakukan perbaikan pada sistem pengangkutan sampah agar lebih efektif dan terjadwal dengan baik.

Di samping itu, DLHK juga mendorong partisipasi aktif masyarakat dengan mengedukasi warga agar mulai memilah dan mengolah sampah organik secara mandiri di rumah masing-masing. Langkah ini dinilai penting untuk mengurangi volume sampah yang masuk ke TPS sejak dari sumbernya.

Guna memaksimalkan upaya ini, DLHK terus meningkatkan koordinasi dengan pihak kelurahan serta pengurus RW dan RT setempat. Reni menekankan bahwa penanganan masalah sampah tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, melainkan membutuhkan kolaborasi erat dan kesadaran dari seluruh lapisan masyarakat demi menjaga kebersihan lingkungan bersama.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *