Rakyatinside.com — Pasar minyak global kembali berada dalam fase sulit diprediksi menyusul meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah. Sejak awal Juli 2026, kekhawatiran mengenai keamanan distribusi minyak kembali menjadi variabel utama yang memengaruhi pergerakan harga komoditas ini di pasar internasional. Selat Hormuz, sebagai jalur vital bagi ekspor minyak dari negara-negara seperti Arab Saudi, Irak, Kuwait, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Iran, kini menjadi pusat perhatian dunia.
Dampak Gangguan Selat Hormuz terhadap Harga
Data menunjukkan bahwa hampir seperempat perdagangan minyak dunia sangat bergantung pada koridor sempit selebar 33 kilometer tersebut. Gangguan kecil pada jalur ini memicu pasar untuk melakukan perhitungan ulang terhadap risiko pasokan. Akibatnya, harga minyak dunia mengalami lonjakan signifikan. Pada perdagangan Selasa, 14 Juli 2026, harga minyak Brent tercatat melonjak 1,72% ke level US$ 84,73 per barel, sementara minyak mentah WTI menguat 1,5% ke US$ 79,34 per barel.
Tren penguatan ini berlanjut pada Rabu, 15 Juli 2026, di mana harga minyak Brent menguat 1,2% ke posisi US$ 85,74 per barel, dan WTI naik ke US$ 80,06 per barel. Dalam dua hari terakhir, harga keduanya tercatat telah melonjak hingga 11%. Kenaikan ini bukan disebabkan oleh penurunan produksi secara langsung, melainkan oleh meningkatnya premi risiko (risk premium) yang harus dibayar pelaku pasar akibat ketidakpastian jalur distribusi.
Penurunan Arus Pelayaran Kapal Tanker
Kondisi di lapangan semakin memperkuat kekhawatiran tersebut. Data dari MarineTraffic mencatat bahwa hanya 57 kapal yang melintasi Selat Hormuz pada periode Jumat hingga Minggu lalu. Angka ini turun drastis dibandingkan pekan sebelumnya, dan jauh di bawah rata-rata 130 kapal per hari sebelum perang pecah pada akhir Februari. Serangan terhadap dua kapal tanker di kawasan tersebut memaksa perusahaan pelayaran untuk meningkatkan kewaspadaan, menunda jadwal pelayaran, atau menunggu kepastian keamanan sebelum memasuki Teluk Persia.
Konteks Pemulihan Pasokan dan Kendala Operasional
Sebelum memanasnya konflik, IEA dalam Oil Market Report Juli 2026 mencatat adanya pemulihan produksi global pada Juni dengan pasokan naik 4,1 juta barel per hari. Ekspor dari kawasan Teluk sempat melonjak, namun kapasitas penuh belum sepenuhnya kembali. Produksi regional masih berada 11 juta barel per hari lebih rendah dibanding level pra-konflik. Selain itu, serangan terhadap infrastruktur kilang di Rusia membuat pasokan produk jadi seperti solar dan bensin tetap terbatas, yang pada gilirannya mendorong margin pengolahan ke level tertinggi dalam empat tahun terakhir.
Pandangan Beragam Bank Investasi
Analisis mengenai masa depan harga minyak saat ini terbagi menjadi beberapa pandangan. Goldman Sachs menyoroti risiko pelemahan permintaan dari China dan Eropa sebagai ancaman terbesar bagi harga minyak di akhir tahun, yang berpotensi memangkas permintaan hingga 2 juta barel per hari. Di sisi lain, Barclays justru mempertahankan proyeksi harga Brent di level US$ 100 per barel karena menilai penutupan Selat Hormuz telah menghilangkan sekitar 14% pasokan minyak global dari pasar.
Lebih jauh lagi, Citigroup memberikan skenario yang lebih ekstrem. Mereka memperkirakan harga Brent bisa menembus kisaran US$ 160-180 per barel jika penutupan Selat Hormuz berlanjut secara berkepanjangan. Probabilitas skenario dasar Citigroup menempatkan harga rata-rata di US$ 110 per barel untuk kuartal kedua, namun risiko geopolitik yang tinggi membuat volatilitas harga terus membayangi ekonomi global.
Revisi Proyeksi Permintaan oleh OPEC
Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) juga memberikan catatan terkait permintaan global. Untuk tahun 2026, permintaan diperkirakan tumbuh 800.000 barel per hari, sementara proyeksi untuk 2027 direvisi naik sebesar 200.000 barel per hari menjadi 1,9 juta barel per hari. Kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan konsumsi ini berasal dari negara-negara non-OECD. Meski produksi OPEC+ meningkat pada Juni menjadi 36,28 juta barel per hari, pasar tetap menantikan stabilitas geopolitik sebagai kunci utama penentu harga minyak dunia ke depan.





