Rakyatinside.com — Militer Iran melontarkan ancaman keras untuk melakukan serangan habis-habisan terhadap seluruh infrastruktur di kawasan regional sebagai bentuk respons jika Amerika Serikat merealisasikan ancaman militernya. Pernyataan ini muncul sebagai tanggapan langsung terhadap rencana Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang sempat mengisyaratkan perluasan serangan terhadap Iran, termasuk menyasar fasilitas sipil seperti pembangkit listrik dan jembatan.
Juru bicara Markas Besar Militer Pusat Khatam al-Anbiya, Letnan Kolonel Ebrahim Zolfaqari, menyatakan bahwa jika ancaman tersebut dilaksanakan, Iran tidak akan lagi menahan diri. Menurutnya, seluruh infrastruktur di wilayah tersebut akan hancur lebur di bawah serangan angkatan bersenjata Iran hingga tidak menyisakan jejak sama sekali. Zolfaqari menegaskan bahwa posisi Iran saat ini adalah bentuk pengendalian diri yang bisa berubah menjadi tindakan ofensif yang jauh lebih besar.
Penegasan Kedaulatan di Selat Hormuz
Selain ancaman balasan, Iran juga mempertegas posisi tawar mereka mengenai Selat Hormuz. Bagi Teheran, wilayah perairan strategis tersebut adalah “garis merah” yang tidak boleh dilanggar oleh kekuatan asing mana pun, termasuk Amerika Serikat. Zolfaqari menyebut bahwa Iran tidak akan membiarkan campur tangan pihak luar di wilayah tersebut dan siap memberikan tindakan yang lebih unggul, luas, dan destruktif dibandingkan sebelumnya jika kedaulatan mereka terusik.
Konflik yang Terus Memanas
Ketegangan antara kedua negara terus meningkat menyusul serangkaian insiden dan retorika saling ancam. Pihak Iran secara konsisten mengecam apa yang mereka sebut sebagai rezim kriminal Amerika Serikat yang dianggap terus melakukan tindakan melanggar hukum internasional. Eskalasi ini mencerminkan situasi geopolitik yang sangat rentan di Timur Tengah, di mana setiap aksi militer dapat memicu dampak domino yang luas bagi stabilitas kawasan.
Dalam perkembangan terbaru yang dilaporkan pada Kamis (16/7/2026), Departemen Hubungan Masyarakat Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah melancarkan serangan terhadap pangkalan Amerika Serikat di Sheikh Isa, Bahrain. Operasi tersebut dilaporkan berhasil menghancurkan sistem radar pengawasan udara serta stasiun pompa bahan bakar yang menjadi suplai vital bagi pesawat tempur musuh.
Implikasi Strategis bagi Kawasan
Ancaman dari militer Iran ini menunjukkan bahwa konflik antara Teheran dan Washington kini tidak lagi terbatas pada perselisihan diplomatik, melainkan telah merambah pada kesiapan perang infrastruktur yang bisa melumpuhkan banyak negara di Timur Tengah. Jika ancaman ini benar-benar terjadi, dampak kerugian ekonomi dan kemanusiaan diprediksi akan sangat masif karena menyasar fasilitas vital yang menjadi penopang kehidupan warga sipil.
Hingga saat ini, komunitas internasional terus memantau perkembangan situasi yang semakin memanas. Sikap tegas yang ditunjukkan oleh angkatan bersenjata Iran menjadi penanda bahwa mereka tidak akan mundur dalam menghadapi tekanan dari Amerika Serikat, sembari terus memperkuat posisi pertahanan mereka di berbagai titik strategis di kawasan Teluk.





