rakyatinside.com – Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah menyusun strategi cepat guna memitigasi dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap sektor energi nasional. Langkah konkret yang diambil adalah mempercepat peningkatan produksi minyak dan gas bumi (migas) di dalam negeri. Selama ini, Indonesia masih sangat bergantung pada impor minyak mentah untuk memenuhi kebutuhan domestik. Ketika nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS, biaya impor energi otomatis melonjak tajam dan membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Untuk mengatasi persoalan ketergantungan impor ini, Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menyatakan bahwa pemerintah berfokus pada pemanfaatan teknologi baru guna mengeksplorasi potensi migas non-konvensional (MNK). Berbeda dengan cadangan konvensional, migas non-konvensional memerlukan teknik pengeboran khusus yang lebih maju karena sumber dayanya terperangkap di dalam lapisan bebatuan yang rapat (shale). Berdasarkan hasil survei geologi nasional, Indonesia memiliki potensi cadangan MNK yang sangat masif di beberapa wilayah kerja strategis.
Salah satu wilayah kerja yang diidentifikasi memiliki potensi terbesar untuk pengembangan teknologi non-konvensional ini adalah Blok Rokan di Riau. Saat ini, PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) selaku pengelola blok tersebut tengah melakukan kajian mendalam tahap awal. Yuliot mengungkapkan bahwa sejumlah pihak swasta dan penyedia teknologi global telah menawarkan sistem mutakhir untuk menggarap potensi MNK di sana.
Kendati penawaran teknologi sudah tersedia, implementasinya masih menunggu payung hukum resmi. Kementerian ESDM bersama Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) kini sedang berkejaran dengan waktu untuk merampungkan regulasi pendukung. SKK Migas menargetkan kerangka regulasi ini selesai pada akhir Juni 2026, sehingga penerapan teknologi tersebut dapat segera dieksekusi pada awal Juli 2026.
Keberhasilan transisi teknologi ini diharapkan mampu meniru kesuksesan Amerika Serikat. Pada dekade lalu, AS menghadapi penurunan tajam produksi migas domestik. Namun, berkat revolusi teknologi pengeboran non-konvensional (shale boom), negara tersebut berhasil membalikkan keadaan. AS tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan energinya secara mandiri, tetapi juga sukses bertransformasi menjadi eksportir migas bersih (net exporter) sejak tahun 2012. Dengan mereplikasi kesuksesan tersebut di Blok Rokan, Indonesia optimistis dapat menstabilkan ketahanan energi nasional sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dari guncangan pasar global.





