Rakyatinside.com — Tim SAR gabungan secara resmi menghentikan operasi pencarian terhadap lima orang jurnalis dan tiga kru kapal yang dilaporkan hilang di perairan Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda. Keputusan ini diambil setelah upaya pencarian intensif selama sepuluh hari tidak menunjukkan adanya tanda-tanda keberadaan para korban maupun kapal motor Arupadhatu I yang mereka tumpangi. Keberangkatan rombongan tersebut awalnya bertujuan untuk melakukan peliputan terkait aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Penghentian operasi penyelamatan ini diumumkan langsung oleh Gubernur Banten, Andra Soni, di kawasan Carita, Pandeglang. Menurut penjelasannya, tim gabungan telah berupaya maksimal menyisir wilayah perairan sekitar cagar alam tersebut. Namun, hingga batas akhir perpanjangan waktu operasi, tidak ada petunjuk signifikan yang mengarah pada lokasi keberadaan kapal maupun para penumpang yang hilang.
Kronologi dan Evaluasi Pencarian Selama 10 Hari
Operasi pencarian dan pertolongan ini awalnya direncanakan berlangsung selama tujuh hari sesuai dengan prosedur standar operasional Basarnas. Karena belum menemukan titik terang, tim SAR memutuskan untuk memperpanjang masa pencarian selama tiga hari tambahan. Dengan demikian, total waktu pencarian aktif yang telah dilakukan oleh tim gabungan mencapai sepuluh hari sebelum akhirnya dinyatakan dihentikan secara resmi.
Selama sepuluh hari penyisiran di perairan Selat Sunda, tim penyelamat sempat menemukan beberapa benda terapung di laut. Tercatat ada 13 objek material yang berhasil dievakuasi oleh tim di lapangan, di antaranya adalah jaket keselamatan (life jacket), terpal, helm, hingga galon air. Temuan-temuan ini sempat memunculkan harapan bagi keluarga korban dan tim evakuasi.
Meski demikian, setelah dilakukan pemeriksaan mendalam oleh pihak Kepolisian Air dan Udara (Polairud), seluruh objek tersebut dinyatakan tidak memiliki keterkaitan dengan kapal Arupadhatu I. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa barang-barang tersebut merupakan sampah laut atau material dari kapal lain yang melintas di jalur penyeberangan Selat Sunda. Tidak adanya keterkaitan ini memperkuat keputusan bahwa pencarian aktif sudah tidak lagi berjalan efektif.
Langkah Pemantauan dan Potensi Pembukaan Kembali Operasi SAR
Meskipun operasi pencarian bersama berskala besar telah dihentikan, otoritas terkait memastikan bahwa upaya pemantauan akan terus berjalan. Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Banten, Al Amrad, menjelaskan bahwa pihaknya akan mengubah metode dari pencarian aktif menjadi pemantauan pasif dan penyebaran informasi (pemapelan). Informasi mengenai hilangnya kapal beserta kru dan jurnalis ini telah disebarluaskan ke berbagai pihak terkait.
Pihak Basarnas Banten memanfaatkan sistem Stasiun Radio Pantai (SROP) dan Vessel Traffic Services (VTS) untuk mengabarkan situasi ini kepada seluruh kapal yang melintas di Selat Sunda. Selain itu, unsur dari Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) serta Polairud yang melakukan patroli rutin di kawasan tersebut juga akan menjadi garda terdepan dalam pengawasan. Kapal-kapal niaga maupun nelayan yang beraktivitas di sekitar Selat Sunda diminta segera melapor jika menemukan kejanggalan atau tanda-tanda kapal Arupadhatu I.
Al Amrad menegaskan bahwa status penghentian ini tidak bersifat permanen mutlak. Jika di kemudian hari ditemukan bukti baru atau petunjuk kuat mengenai keberadaan kapal maupun korban, operasi SAR gabungan akan langsung dibuka kembali secara penuh. Pihak keluarga korban pun dikabarkan terus memantau perkembangan situasi dan berharap mukjizat agar para jurnalis beserta kru kapal dapat segera ditemukan.





