KKB Video Call Keluarga CPNS yang Ditembak di Jayawijaya Pakai HP Korban

  • Bagikan
KKB Video Call Keluarga CPNS yang Ditembak di Jayawijaya Pakai HP Korban
KKB Video Call Keluarga CPNS yang Ditembak di Jayawijaya Pakai HP Korban

Rakyatinside.com — Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di wilayah Papua Pegunungan melakukan aksi keji setelah menembak mati seorang Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) bernama Willy Mboik (24). Setelah melakukan penembakan yang menewaskan korban, anggota kelompok bersenjata tersebut merampas telepon genggam milik korban. Ponsel yang dirampas itu kemudian digunakan oleh pelaku untuk menghubungi pihak keluarga korban melalui panggilan video (video call).

Peristiwa tragis ini dikonfirmasi langsung oleh Kepala Satuan Tugas (Kasatgas) Humas Operasi Damai Cartenz, Kombes Yusuf Sutejo. Pihak kepolisian membenarkan bahwa panggilan video tersebut dilakukan sesaat setelah insiden penembakan maut terjadi di wilayah Kabupaten Jayawijaya. Aparat kepolisian kini tengah melakukan penyelidikan mendalam guna mengetahui motif dan isi percakapan dari panggilan video tersebut.

Kronologi Penembakan Pegawai Pemkab Jayawijaya

Peristiwa penembakan ini terjadi pada hari Rabu (9/9) sekitar pukul 15.53 WIT di jalanan Distrik Muliama, Kabupaten Jayawijaya. Saat itu, Willy Mboik yang merupakan CPNS asal Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT), sedang berada dalam perjalanan dinas bersama rombongan dari Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya.

Kepala Operasi Damai Cartenz, Irjen Faizal Ramadhani, menjelaskan bahwa rombongan tersebut terdiri dari 11 orang pegawai Dinas Pertanian. Mereka berangkat dari Wamena menuju lokasi kegiatan di Distrik Muliama untuk melakukan peninjauan terhadap program cetak sawah yang sedang dilaksanakan di wilayah tersebut.

Namun, di tengah perjalanan, kendaraan yang membawa rombongan pegawai pemerintah ini tiba-tiba diserang. Kelompok bersenjata melepaskan tembakan secara mendadak ke arah kendaraan mereka. Serangan tersebut mengakibatkan kepanikan dan menewaskan tiga orang pegawai di lokasi kejadian akibat luka tembak yang cukup parah.

Baca Juga:  Polisi Ringkus Pelaku Ancaman Bom di SDN Srengseng Sawah Jakarta Selatan

Identitas Korban dan Penyelidikan KKB Nduga

Tiga korban meninggal dunia dalam insiden penembakan ini telah diidentifikasi oleh pihak berwenang. Mereka adalah AR yang berusia 49 tahun, AAM yang berusia 35 tahun, dan WB alias Willy Mboik yang berusia 24 tahun. Berdasarkan hasil penyelidikan sementara, pihak kepolisian menduga kuat bahwa aksi penembakan keji ini dilakukan oleh anggota KKB yang berasal dari wilayah Nduga.

Setelah melakukan penembakan dan merampas barang-barang milik korban, pelaku langsung melakukan panggilan video menggunakan ponsel milik Willy Mboik. Panggilan tersebut langsung terhubung dengan pihak keluarga korban yang berada di luar daerah. Tindakan ini mengejutkan pihak keluarga yang kemudian segera melaporkannya kepada aparat keamanan.

Polisi Kendala Bahasa dalam Rekaman Video Call

Meskipun panggilan video tersebut berhasil terdokumentasi, polisi menghadapi tantangan dalam memahami isi percakapan yang dilakukan oleh anggota KKB tersebut. Kombes Yusuf Sutejo mengungkapkan bahwa pelaku tidak menggunakan bahasa Indonesia selama melakukan panggilan video dengan keluarga korban.

“Mereka menggunakan bahasa daerah saat berbicara, sehingga kami masih harus menerjemahkannya terlebih dahulu,” ujar Kombes Yusuf Sutejo. Pihak kepolisian saat ini melibatkan ahli bahasa daerah setempat untuk menerjemahkan setiap kata yang diucapkan oleh pelaku guna mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai identitas dan keberadaan kelompok tersebut.

Penyelidikan intensif terus dilakukan oleh Satgas Operasi Damai Cartenz guna memburu para pelaku penembakan yang dilaporkan berjumlah delapan orang. Pemerintah daerah beserta aparat keamanan juga mengimbau warga dan pegawai dinas untuk meningkatkan kewaspadaan saat melakukan perjalanan dinas di area-area rawan konflik di Papua Pegunungan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Baca Juga:  Amnesty International Indonesia Kritik Sayembara Penangkapan Begal di Jawa Barat
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *