Survei Terbaru Menunjukkan Penolakan Publik Amerika terhadap Perang Iran Donald Trump

  • Bagikan
Presiden AS Donald Trump dan hasil survei penolakan perang Iran oleh publik Amerika
Presiden AS Donald Trump dan hasil survei penolakan perang Iran oleh publik Amerika

Rakyatinside.com — Kebijakan perang Iran yang diluncurkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada akhir Februari berpotensi berubah menjadi bencana politik besar bagi pemerintahannya. Berdasarkan serangkaian jajak pendapat publik terbaru, operasi militer ini mencatatkan tingkat penolakan paling cepat dan menjadi salah satu konflik paling tidak populer dalam sejarah modern Amerika Serikat. Gelombang ketidaksetujuan masyarakat terhadap konflik ini bahkan melampaui tren penolakan pada perang-perang besar sebelumnya seperti Perang Irak, Perang Afghanistan, hingga Perang Vietnam.

Data terbaru dari survei Washington Post-Ipsos menunjukkan bahwa mayoritas mutlak warga Amerika Serikat tidak mendukung kelanjutan aksi militer tersebut. Sebanyak 68 persen responden menilai bahwa perang di Iran tidak layak untuk diperjuangkan oleh negara mereka. Sebaliknya, hanya sekitar 28 persen masyarakat yang merasa bahwa konflik militer tersebut masuk akal dan layak dilakukan. Hasil ini menciptakan selisih persentase negatif hingga 40 poin, sebuah angka yang jauh lebih buruk dibandingkan titik penolakan terendah yang pernah tercatat dalam sejarah Perang Irak maupun Perang Afghanistan.

Kecepatan Penolakan Publik yang Luar Biasa

Kecepatan pergeseran opini publik Amerika Serikat dari netral atau mendukung menjadi menolak keras menjadi salah satu pukulan politik yang sangat berat bagi Presiden Donald Trump. Apabila dibandingkan dengan rekam jejak konflik militer Amerika Serikat pada masa lalu, dinamika opini publik pada perang Iran kali ini bergerak dalam tempo yang sangat singkat.

Sebagai perbandingan, pada Perang Afghanistan, dibutuhkan waktu hampir delapan tahun bagi mayoritas warga Amerika Serikat untuk akhirnya berbalik arah dan menilai bahwa perang tersebut tidak lagi layak diperjuangkan. Sementara itu, pada Perang Irak, opini publik membutuhkan waktu sekitar satu tahun untuk mencapai titik balik di mana mayoritas warga menolak invasi tersebut. Bahkan, dibutuhkan rentang waktu hampir empat tahun hingga dua pertiga warga Amerika Serikat secara konsisten menyatakan bahwa operasi militer di Irak tidak pantas untuk dilanjutkan.

Baca Juga:  Iran Membatalkan Rencana Serangan ke Ukraina Setelah Kyiv Menyampaikan Permintaan Maaf Resmi

Analisis dari Washington Post menegaskan bahwa Perang Irak sekalipun tidak pernah kehilangan tingkat dukungan publik secara dramatis dan secepat perang Iran yang digagas oleh pemerintahan Trump saat ini.

Perbandingan dengan Perang Vietnam, Irak, dan Afghanistan

Sentimen negatif masyarakat Amerika Serikat juga tercatat secara jelas dalam hasil jajak pendapat yang dilakukan oleh Washington Post bersama ABC News pada akhir April. Hanya dalam jangka waktu kurang dari dua bulan sejak operasi militer pertama diluncurkan ke Iran, sebanyak 61 persen warga Amerika Serikat telah secara terbuka menganggap keputusan meluncurkan perang tersebut sebagai sebuah kesalahan.

Angka ini sangat mencolok jika disandingkan dengan sejarah konflik militer masa lalu. Pada Perang Irak, butuh waktu hampir empat tahun setelah invasi pertama dimulai bagi mayoritas masyarakat AS untuk menganggap perang tersebut sebagai sebuah kesalahan. Sementara itu, Perang Vietnam membutuhkan waktu lebih dari enam tahun untuk mencapai tingkat penolakan umum dengan persentase yang setara dari warga Amerika.

Efek Kebijakan Militer terhadap Citra Posisi Global AS

Langkah Presiden Donald Trump yang kerap berusaha menggambarkan perang Iran sebagai simbol kekuatan dan ketegasan Amerika Serikat di panggung internasional juga tidak membuahkan hasil di mata publik. Mayoritas pemilih justru memiliki pandangan yang bertolak belakang dengan klaim pemerintah.

Hasil survei dari Universitas Quinnipiac menemukan bahwa 45 persen pemilih terdaftar menilai aksi militer di Iran justru membuat posisi Amerika Serikat semakin lemah di mata dunia. Di sisi lain, hanya 33 persen responden yang meyakini bahwa perang tersebut berhasil membuat Amerika Serikat menjadi negara yang lebih kuat. Jajak pendapat ini mengindikasikan bahwa argumen kekuasaan dan kekuatan militer yang diusung Trump tidak cukup meyakinkan bagi sebagian besar pemilih terdaftar.

Baca Juga:  Kejaksaan Agung Tegaskan Status Febrie Adriansyah Sebagai Tersangka Dalam Tiga Kasus

Tingkat Dukungan Awal Terendah dalam Sejarah Operasi Militer AS

Penolakan terhadap aksi militer di Iran sebenarnya sudah mulai terlihat sejak hari-hari pertama konflik berkecamuk. Hasil analisis media New York Times terhadap survei CNN menunjukkan bahwa saat serangan pertama diluncurkan, hanya 41 persen responden yang menyatakan dukungan terhadap keputusan militer tersebut. Angka 41 persen tersebut tercatat sebagai tingkat dukungan awal paling rendah yang pernah ada bagi pembukaan operasi militer internasional Amerika Serikat dalam sejarah pencatatan survei modern.

Temuan dari lembaga riset Gallup memperkuat potret buruknya tingkat penerimaan publik ini. Dalam rekam jejak lebih dari belasan aksi militer internasional yang pernah dilakukan Amerika Serikat dan disurvei oleh Gallup, hampir seluruh operasi militer selalu diawali dengan dukungan publik awal di atas 50 persen. Sebelum perang Iran dimulai, hanya intervensi militer di Libya pada tahun 2011 yang gagal menembus angka dukungan separuh populasi, yakni berada di angka 47 persen.

Namun, berbeda dari operasi militer terdahulu yang sempat mempertahankan basis dukungan untuk beberapa saat, angka dukungan terhadap perang Iran justru anjlok dengan sangat drastis. Hanya dalam kurun waktu tiga bulan setelah konflik berjalan, tingkat dukungan publik kembali merosot tajam hingga menyisa 34 persen saja.

Faktor yang Membatasi Tekanan Politik terhadap Donald Trump

Walaupun data menunjukkan bahwa konflik di Iran ini menjadi salah satu perang paling tidak populer dalam sejarah modern Amerika Serikat, isu perang tersebut ternyata belum berstatus sebagai fokus atau perhatian utama dalam kehidupan sehari-hari mayoritas masyarakat Amerika Serikat.

Kondisi ini sangat berbeda jika dibandingkan dengan era Perang Vietnam atau Perang Irak. Pada tahun 1967, Perang Vietnam dianggap sebagai masalah atau tantangan terbesar bagi negara oleh sekitar 55 persen warga Amerika Serikat. Begitu pula pada tahun 2007, saat Perang Irak berada pada puncaknya, sebanyak 36 persen masyarakat menganggap isu perang tersebut sebagai prioritas utama nasional. Sebaliknya, dalam kasus perang Iran saat ini, sebagian besar jajak pendapat menunjukkan bahwa isu konflik Iran hanya ditempatkan sebagai masalah prioritas utama oleh persentase angka satu digit dari total warga Amerika Serikat.

Baca Juga:  Persib Ditinggal 11 Pemain ke Timnas Indonesia, Igor Tolic Siapkan Skenario Alternatif -

Penyebab utama dari relatif rendahnya perhatian langsung masyarakat ini disebabkan oleh karakter dari bentuk operasi militer yang dijalankan. Perang Iran saat ini belum melibatkan pengerahan pasukan darat dalam skala besar, serta belum memakan korban jiwa dari pihak militer Amerika Serikat dalam jumlah masif seperti pada konflik-konflik besar terdahulu.

Akibat dari tidak adanya keterlibatan pasukan darat secara masif dan ketiadaan angka korban jiwa yang tinggi, tekanan politik langsung dari publik terhadap Presiden Donald Trump untuk segera mengubah kebijakan luar negerinya menjadi relatif terbatas, meskipun mayoritas warga memandang perang tersebut secara negatif.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *