Rakyatinside.com — Iran dilaporkan mulai menerapkan taktik baru dengan menyasar kapal-kapal tanker yang sedang berlabuh di kawasan Teluk Persia dan Teluk Oman. Langkah ini diambil sebagai bagian dari rangkaian serangan balasan Tehran terhadap kepentingan Amerika Serikat setelah ketegangan antara kedua belah pihak terus meningkat selama enam bulan terakhir. Perubahan strategi ini menandai babak baru dalam konflik maritim yang kini tidak hanya menyasar kapal yang sedang berlayar, tetapi juga kapal dalam posisi diam.
Ketegangan di jalur pelayaran vital tersebut memuncak setelah militer Amerika Serikat menyerang sejumlah kapal tanker milik Iran. Sebagai respons, Tehran melancarkan berbagai aksi balasan, termasuk serangan langsung ke pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Sebelumnya, sebagian besar sasaran Iran adalah kapal dagang yang mencoba melintasi Selat Hormuz melalui rute di luar ketentuan yang ditetapkan oleh Tehran.
Perluasan Taktik Iran Menyasar Kapal yang Berlabuh
Menurut analisis yang diterbitkan oleh Fars News Agency pada Senin (14/9/2026), pola serangan Iran kini meluas ke kapal-kapal yang berada dalam posisi tetap atau sedang berlabuh di pelabuhan. Lembaga kajian asal Amerika Serikat, Institute for the Study of War (ISW), memperkuat laporan ini dengan menyatakan bahwa Iran tampaknya sengaja menargetkan kapal dagang yang sedang lego jangkar di sekitar Teluk Persia dan Teluk Oman untuk meningkatkan tekanan ekonomi dan keamanan terhadap aset-aset yang terafiliasi dengan Amerika Serikat.
ISW mencatat setidaknya ada tiga kapal tanker yang diduga menjadi sasaran serangan Iran dalam satu hari, yakni pada 9 September 2026. Kapal-kapal tersebut meliputi Hercules Star yang tengah berlabuh di lepas pantai Dubai, Uni Emirat Arab; sebuah kapal tanker pengangkut gas alam cair (LNG) yang belum diidentifikasi namanya di Pelabuhan Khor Fakkan; serta kapal tanker New Andros yang saat itu berada di wilayah perairan Irak. Langkah ini dinilai sebagai upaya Tehran memperluas zona tekanan maritimnya.
Insiden Keamanan di Dekat Port Rashid
Laporan mengenai serangan terhadap kapal yang sedang berlabuh ini juga dikonfirmasi oleh lembaga pemantau keamanan laut internasional. United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) melaporkan adanya sebuah insiden keamanan yang terjadi sekitar 24 mil laut dari Port Rashid, Uni Emirat Arab. Berdasarkan informasi yang dirilis oleh Reuters, sebuah kapal yang sedang berlabuh di kawasan tersebut dilaporkan terkena hantaman proyektil yang hingga kini belum diketahui asal-usulnya.
Kejadian di Port Rashid ini menambah panjang daftar insiden keamanan maritim di kawasan Teluk. Para analis menilai bahwa penargetan kapal dalam posisi diam di pelabuhan atau area lego jangkar memiliki tingkat kerentanan yang lebih tinggi karena kapal-kapal tersebut tidak dapat melakukan manuver penghindaran dengan cepat. Hal ini menciptakan tantangan baru bagi keamanan pelayaran internasional yang melintasi jalur logistik energi global tersebut.
Balasan Terhadap Serangan Amerika Serikat
Eskalasi militer ini merupakan kelanjutan dari perang tanker yang telah berlangsung selama setengah tahun. Pemerintah Iran menyatakan bahwa tindakan mereka merupakan respons langsung terhadap tindakan agresif Amerika Serikat yang sebelumnya telah menenggelamkan lima kapal tanker milik Iran. Sebagai aksi balasan yang setimpal, Tehran kemudian melancarkan serangan terhadap sepuluh kapal dagang dan tanker di sekitar Selat Hormuz yang dianggap mengabaikan aturan navigasi mereka.
Rangkaian saling balas ini disebut-sebut sebagai gelombang serangan terbesar yang diumumkan oleh kedua belah pihak sejak pecahnya konflik maritim enam bulan lalu. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur krusial bagi pasokan minyak dunia, sehingga setiap gangguan keamanan di wilayah ini langsung memicu kekhawatiran global terhadap stabilitas pasokan energi dan kenaikan harga komoditas global. Situasi yang terus memanas ini membuat pengawasan militer internasional di kawasan Teluk semakin diperketat guna mencegah dampak yang lebih luas pada perekonomian dunia.





